Waspada
Waspada » 11.327 Siswa SMA/SMK Tetap Sekolah
Aceh

11.327 Siswa SMA/SMK Tetap Sekolah

IDI (Waspada): Meskipun diapit zona merah COVID-19 dalam kategori resiko tinggi, 11.327 siswa/i SMA/SMK Se-Kabupaten Aceh Timur masih, tetap melaksanakan proses pembelajaran secara tatap muka. Namun tetap mengikuti protokol kesehatan.

“Sejak awal tahun ajaran baru hingga saat ini masih tetap jalan belajar tatap muka. Tapi tetap mengikuti protokol kesehatan, seperti mengenakan masker dan mengatur jarak serta menyediakan tong air untuk mencuci tangan,” kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan Aceh Wilayah Aceh Timur, Husaini, melalui Kasi Pengembangan Mutu GTK, Syariful Azhar, menjawab Waspada, Kamis (22/10).

Awalnya belajar tatap muka sempat ditiadakan, dialihkan belajar dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring). Bahkan sebagian siswa didaerah pedalaman, para guru dan wali kelas harus menghantar bahan ajar ke rumah-rumah siswa. “Kondisi seperti ini berlangsung sejak Maret – Juni lalu atau di tahun ajaran 2019/2020,” sebut Syariful.

Nah, sejak awal tahun ajaran baru para siswa/i kembali melanjutkan pembelajaran tatap muka dengan mematuhi protokol kesehatan (prokes). Bahkan seluruh sekolah melarang orangtua/wali masuk ke pekarangan sekolah. “Orangtua/wali yang hendak menghantar dan menjemput peserta hanya dibenarkan sampai di pintu pagar. Ini semua dilakukan pihak sekolah untuk mencegah penyebaran wabah COVID-19,” tambah Syariful.

Tidak Tersendat

Disinggung dampak COVID-19 terhadap dunia pendidikan, Syariful kembali menjelaskan, dampak pandemi berdampak besar terhadap dunia pendidikan. Bahkan Kemendikbud RI harus mengeluarkan regulasi baru terhadap seluruh jenjang pendidikan, baik SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia.

“Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) RI Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Pandemi Khusus (COVID-19), dimana indikator dari permen ini mengamanahkan muatan kurikulum dikurangi hingga 60 persen,” sebut Syariful.

Terkait dengan kesejahteraan guru kontrak dan bakti, Syariful mengaku sama sekali tidak terkendala, karena guru tetap dibayar honor dan gaji kontraknya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Baik guru kontrak yang dibayar menggunakan APBA, maupun guru bakti yang dibayar jerih payahnya menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Bahkan sebagian guru di daerah pedalaman menambah pekerjaan, sebab selain menyiapkan bahan ajar, guru juga harus menghantar bahan ajar dan menjemput tugas yang diberikan ke siswa/i yang menetap di desa-desa yang tidak terjangkau jaringan handphone (HP),” demikian Syariful Azhar. (b11).

Teks Foto:

PENDIDIKAN: Kasi Pengembangan Mutu GTK, Syariful Azhar, menjawab diabadikan di dalam ruangnya kerjanya di Idi, Kamis (22/10). Waspada/M. Ishak

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2