Oleh Azhari Akmal Tarigan
Apa alasan saya memilih UIN Sumatera Utara Medan, Om? Apa yang saya dapatkan? Ada tidak sesuatu yang baru yang tidak saya dapatkan di universitas lain. Ini adalah pertanyaan seorang anak pintar yang akan menyelesaikan studi SMAnya tahun ini.
Sebenarnya, anak tersebut masih ada hubungan famili dengan saya. Kami bertemu dalam sebuah silaturahmi kecil-kecilan dengan orang tuanya. Tentu saja, saya tercengang dengan pertanyaan ini.
Saya berpikir keras untuk menjawabnya.
Sebelum saya jawab, saya juga mengajukan pertanyaan yang sama kepadanya. Kalau kamu sudah menentukan pilihan di universitas tertentu, apa alasan kamu memilih universitas tersebut? Ia terkejut dengan pertanyaan itu. Namun, karena kecerdasannya, ia menjawab dengan tiga hal.
Pertama, akreditasi universitas tersebut unggul, dan program studi yang dipilihnya juga unggul.
Kedua, lulusannya mudah mendapatkan pekerjaan.
Ketiga, branding kampus tersebut cukup bagus, bukan saja karena status negeri, tetapi juga banyak orang pintar di dalamnya.
Saya tersenyum mendengarkan alasan itu.
Cukup wajar, dan semua orang akan menjawab hal yang sama. Jika kita tanya anak-anak SMA dan juga MA, jawabannya akan berputar pada
tiga hal di atas.
Jawaban pertama muncul sekitar dua dekade belakangan ini saja, yakni setelah persoalan akreditasi marak dan menjadi ukuran kualitas perguruan tinggi.
Dahulu, alasan memilih perguruan tinggi umumnya adalah seberapa mudah lulusannya mendapatkan pekerjaan dan sekeren apa perguruan tinggi tersebut.
Sulit menemukan alasan calon mahasiswa memilih perguruan tinggi tertentu karena ilmu pengetahuan.
Parahnya, sampai pada level magister dan doktoral sekalipun, tidak semua orang mendasari pilihannya karena ilmu—karena di perguruan tinggi tersebut ada pakar atau ahli yang dicarinya, yang dari ahli
itulah ia berhasrat untuk menyerap ilmu sang alim.
Dengan perlahan, saya menjelaskan beberapa keunggulan UIN Sumatera Utara. Saya tidak tahu seberapa dalam pemahaman keponakan saya terhadap penjelasan yang saya berikan. Namun, pastinya saya melihat ia termenung seakan berpikir keras. Saya sampaikan kepadanya beberapa argumen berikut:
- Akreditasi UINSU Medan unggul, sama dengan universitas besar lainnya. Program
studinya juga banyak yang sudah terakreditasi unggul dan setidaknya baik sekali. Ini
menunjukkan posisi UINSU yang dulunya dianggap universitas kelas dua dibanding
dengan universitas besar lainnya, seperti UI, UGM, IPB, dan UIN Jakarta, tetapi saat
ini posisinya sama dari sisi akreditasi. UINSU hari ini telah melejit menjadi
universitas yang terus bertumbuh dan berkembang. Posisi di enam besar PTKIN yang
diminati, pernah berada di peringkat pertama skor SINTA, serta urutan ketiga di
EduRank; prestasi yang dapat dibanggakan. - UINSU Medan memiliki 63 program studi (PS) untuk Strata 1 (S1), Strata 2 (S2), dan Strata 3 (S3), baik keagamaan maupun umum. Calon mahasiswa memiliki banyak pilihan program studi di UINSU Medan. Sampai saat ini terdapat 11 program studi umum, seperti Ilmu Komunikasi, Manajemen Informatika, Kesehatan Masyarakat, Ilmu Gizi, Ilmu Komputer, dan lain-lain. Dalam waktu dekat, UINSU akan membuka PS Data Sains dan Bisnis Digital. Untuk program studi umum, penerimaan mahasiswa
barunya sama dengan PTN lainnya di Indonesia, baik pola maupun waktunya.
Sedangkan untuk program studi keagamaan, penerimaan mahasiswa barunya sama dengan PTKIN seluruh Indonesia. - UINSU Medan memiliki kampus yang besar dan tersebar di berbagai lokasi. Kampus ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana modern, seperti laboratorium untuk berbagai bidang ilmu serta perpustakaan, baik konvensional maupun digital. Fasilitas lainnya mencakup sarana ibadah, olahraga, serta pengembangan seni dan budaya.
Fasilitas kesehatan juga sangat baik karena telah terakreditasi paripurna. - UINSU Medan memiliki lebih kurang 49 profesor atau guru besar. Insyaallah, pada tahun ini, sembilan guru besar akan menyusul. Dari lebih kurang 600 dosen, sebagian besar bergelar doktor, dan banyak yang sedang menempuh serta menyelesaikan studi S3-nya. Banyak dosen UINSU yang memiliki reputasi internasional serta mendapatkan pengakuan di dunia akademik, baik karena kepakarannya maupun
tugas-tugas lainnya, seperti menjadi reviewer jurnal bereputasi internasional. Dosen- dosen UINSU memiliki kompetensi keilmuan yang memadukan kekuatan ilmu agama
dan ilmu umum. Dari dosen-dosen yang alim inilah, mahasiswa dapat menimba ilmu seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. - UINSU unggul dalam publikasi dan mendapatkan pengakuan dari SINTA. Dosen- dosennya produktif dalam menulis. Terdapat 481 artikel yang terindeks Scopus, 48.701 artikel di Google Scholar, dan 15.997 artikel yang terekap di Garuda. Jumlah sitasi mencapai 1.802 untuk artikel Scopus dan 280.162 untuk Google Scholar.
Dosen-dosen UINSU Medan juga memiliki berbagai karya ilmiah, baik berupa buku akademik maupun populer, yang jumlahnya tak terhitung. - Orientasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat oleh dosen dan mahasiswa UINSU diarahkan serta difokuskan pada pemberdayaan masyarakat. UINSU lahir dari
umat dan untuk umat, bangsa, serta negara. Melalui penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat (PKM), UINSU senantiasa berupaya menegakkan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang kehadirannya membawa manfaat bagi masyarakat. Ilmu bukan hanya ditempatkan di langit atau di awang-awang, melainkan harus
dibumikan agar masyarakat dapat merasakan manfaatnya. - UINSU memiliki berbagai fasilitas beasiswa, baik yang bersumber dari pemerintah, lembaga perbankan dan keuangan syariah, maupun dunia usaha dan industri (DUDI).
Beasiswa ini diperuntukkan bagi mahasiswa kurang mampu serta mereka yang berprestasi dalam bidang olahraga dan seni. Ketiadaan biaya tidak boleh menjadi alasan mahasiswa UINSU gagal melanjutkan kuliah. Kuncinya adalah kesungguhan dalam menuntut ilmu, dan jalan akan terbuka lebar. - Secara spesifik, UINSU memiliki Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan Badan Wakaf sebagai lembaga keuangan publik yang juga menyediakan beasiswa bagi mahasiswabserta kegiatan kemaslahatan lainnya. Lembaga ini tidak dimiliki oleh semua PTKIN. Bahkan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa UINSU adalah PTKIN pertama yang
mengembangkan zakat tidak hanya secara teoretis, tetapi juga dalam praktik. Hingga saat ini, UINSU adalah PTKIN pertama yang memiliki Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), yang sudah ada sejak tahun 1990-an. - UINSU memiliki jaringan kerja sama nasional dan internasional, baik dengan negara- negara Barat, Timur Tengah, maupun Asia. Kerja sama ini dimaksudkan untuk mendukung pengembangan UINSU Medan, yang telah berketetapan hati dan memantapkan diri sebagai kampus dengan rekognisi internasional. Program internasionalisasi UINSU Medan bertujuan untuk mengembangkan Tridharma
Perguruan Tinggi serta meningkatkan sarana dan prasarana kampus. - UINSU memiliki beberapa lembaga yang menopang keberadaannya sebagai kampus unggul dan berstandar internasional. Di antaranya adalah Lembaga Sertifikasi Profesi, Lembaga Kajian Halal, Pusat Studi Lingkungan Hidup, Pusat Pengembangan Karir dan Kewirausahaan, Rumah Moderasi Beragama, dan lain sebagainya. Lembaga-lembaga ini memiliki peran signifikan dalam mendukung pencapaian kompetensi mahasiswa UINSU Medan.
- UINSU sangat fokus pada penguatan integritas dan akhlak mahasiswa. Pembentukan serta penguatan karakter mahasiswa UINSU menjadi suatu keniscayaan. Lembaga- lembaga kemahasiswaan, baik Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun Unit
Kegiatan Khusus (UKK), diarahkan untuk mendukung pengembangan karakter.
Pengembangan seni dan olahraga tidak hanya didukung, tetapi juga difasilitasi oleh kampus. - Jika ada satu hal yang menjadi pembeda utama UINSU Medan dari kampus lain,vmaka itu adalah desain keilmuannya yang berbasis integrasi transdisipliner. Ilmu agama dan ilmu umum dipelajari secara integratif. Di UINSU Medan, mahasiswa yang memilih program studi umum tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu umum, tetapi juga ilmu agama. Begitu pula dengan mahasiswa program studi agama. Kedua bidang ilmu ini tidak diajarkan secara dikotomis, melainkan secara integratif. Mengapa UINSU memilih desain keilmuan integratif?
Jawabannya adalah karena UINSU Medan sangat menyadari penyebab kemunduran umat Islam di masa lampau, yakni pembelajaran yang dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu agama sering kali disebut sebagai “ilmu surga,” sedangkan ilmu umum tidak dipandang demikian. Padahal, para ilmuwan Muslim terdahulu justru mampu mengintegrasikan kedua bidang ilmu tersebut. Sebagai contoh, Ibnu Sina dikenal sebagai ahli dalam bidang ilmu kesehatan, sementara Al- Khawarizmi dan Aljabar adalah astronom sekaligus matematikawan sejati. Mereka adalah
para saintis yang juga memahami dan mendalami agama. Ibnu Haitham, misalnya,merupakan penemu optik. Tak ketinggalan, Ibn Khaldun yang dijuluki sebagai bapak sosiologi dunia.
UINSU menyadari bahwa ketertinggalan umat Islam hanya dapat diatasi melalui rekayasa peradaban yang masif dan intensif, salah satunya adalah penguatan integrasi antara sains dan agama.
Terkait hal ini, keponakan saya tampak mengernyitkan dahi. Baginya, konsep integrasi dan wahdatul ulum terdengar asing. Namun, ketika saya menjelaskan keberadaan ilmuwan Muslim pada abad pertengahan beserta keahliannya, ia justru tercengang.;Tahukah kamu siapa yang menemukan kacamata yang sedang kamu pakai itu?” tanya saya. Ia menggeleng, tidak tahu.
Saya pun menjelaskan bahwa penemunya adalah ilmuwan Muslim bernama Ibnu Haitham, seorang saintis luar biasa. Saya juga menerangkan bahwa karya-karyanya ditulis dalam
bahasa Arab sebelum akhirnya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Hal yang sama &berlaku untuk Qanun fi al-Thibb karya Ibnu Sina, yang hingga kini masih menjadi rujukan dalam ilmu kedokteran.Saya mengatakan kepadanya bahwa UINSU bertekad melahirkan Ibnu Sina baru, Al- Khawarizmi baru, Al-Jabar baru, Ibnu Khaldun baru, Ibnu Rusyd baru, dan ilmuwan- ilmuwan Muslim hebat lainnya. Ketertinggalan dunia Islam bermula ketika ilmu agama dipisahkan dari sains. Oleh karena itu, UINSU berkomitmen untuk mengintegrasikannya kembali.Saya menjelaskan semuanya dengan begitu serius. Syukurlah, keponakan saya mulai memahami dan menyadari bahwa memilih UINSU Medan bukan hanya demi dirinya sendiri, karirnya, atau keluarganya, tetapi juga demi kemajuan umat. Ia pun ingin menjadi bagian dari lokomotif kebangkitan peradaban Islam. Alhamdulillah.(Penulis Guru Besar Dan WR 1 UINSU)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.