Beramal Tanpa Dasar Ilmu

  • Bagikan
Beramal Tanpa Dasar Ilmu

Oleh Darwis Simbolon, S.Pd., M.Pd

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqan: 23)

Seorang ahli ibadah yang beramal siang dan malam namun tidak disertai ilmu dan ittiba adalah kesia-siaan dan kerugian. Karenanya, jangan tertipu dengan banyaknya amal yang telah dikerjakan. Apalagi sampai berani membuat sesuatu model ibadah yang baru dalam beragama yang disertai keyakinan atasnya. Alangkah baiknya jika terus belajar, sambil merenung sekaligus muhasabah atau evaluasi, karena boleh jadi selama ini kita hanya “terpesona dan terpedaya” dalam beramal tanpa dasar ilmu.

Syaikh As-Sadi menjelaskan bahwa banyak diantara manusia yang sudah bersusah payah mengerjakan suatu “ibadah” serta berharap pahala dari amalnya. Namun, ternyata sia-sia bagaikan debu yang beterbangan. Hal ini bermakna bahwa amal yang dianggap baik baik tersebut hanyalah sia-sia, tidak diperhitungkan, tertolak, atau batal. Inilah kerugian, keletihan, dan penyesalan terbesar bagi orang yang beramal di dunia tanpa dasar ilmu agama yang benar.

Kerugiannya berlipat dengan tertolak amal, sekaligus disiksa karena melakukan bidah atau menyelisihi petunjuk. Padahal Allah hanya menerima amal kebajikan dari orang-orang beriman yang ikhlas, mengikuti petunjuk Al-Quran dan As-Sunnah. Maka adapun perkara amal yang selainnya, sudah pasti tertolak dan menambah kerugian pelakunya. Sabdanya, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan (agama) yang tidak ada perintahnya, maka tertolak” (HR. Muslim).

Di sinilah pentingnya perenungan mendalam, bertanya kepada hati kecil sebagai evaluasi diri. Sudahkah amal atau ibadah tersebut secara totalitas dipersembahkan hanya kepada Allah? Seandainya saja seseorang telah sampai pada puncak sempurna keikhlasannya, tentu saja hal tersebut belum cukup hingga dibarengi ketundukan menyeluruh (kaffah) untuk mengikuti petunjuk Al-Quran dan tuntunan Nabi SAW.

Kalau demikian, barulah ada secercah harapan kecil atas kemurahan-Nya semoga suatu amal tersebut diterima-Nya. Kiranya jangan sampai ada diantara kita yang berhenti menuntut ilmu bahkan terlalu percaya diri bahwa amalnya sudah benar dan pasti berterima disisi-Nya.

Seyogyanya selama kita masih hidup, tidak boleh berhenti menuntut ilmu agama, berkumpul bersama orang-orang yang benar dan senantiasa memohon petunjuk-Nya agar istiqomah. Karena inilah jalan keselamatan yang ditempuh para Nabi, Rasul dan orang-orang saleh terdahulu. Mereka berusaha mengikhlaskan diri dalam ketaatan untuk mengikuti petunjuk, istiqomah dan menguatkan kesabaran atasnya. Firman-Nya, “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-Anam: 163).

Sungguh telah banyak kisah teladan sebagaimana dicontohkan para Nabi dan Rasul-rasul terdahulu bahwa ternyata mereka juga khawatir kalau amalnya ditolak. Walaupun mereka adalah manusia pilihan yang diberi ilmu dan terbimbing dengan wahyu Ilahi. Namun, dengan segala kerendahan hati, ketakwaan dan raja, mereka tidak henti-hentinya memohon kepada Allah yang Maha penyayang agar menerima segala amalnya. Inilah bukti jika seseorang bernar-benar dikaruniai ilmu yang berkah dan bermanfaat. Seperti Nabi Ibrahim as yang dikisahkan, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah yang Mahamendengar, Mahamengetahui” (QS. Al-Baqarah: 127).

Kalau para Nabi dan Rasul yang berilmu saja khawatir lalu berdoa, apalagi kita hamba biasa yang pasti belum jelas ilmu dan kedudukannya. Sungguh tercela orang yang merasa bangga dan puas atas apa yang dikerjakan. Ketahuilah bahwa para Nabi, Rasul dan orang-orang salih terdahulu tidak pernah merasa bangga, apalagi menyebut-nyebutnya. Mereka sadar bahwa ketaatan mereka kepada Allah hanyaalah atas petunjuk dan taufik-Nya sehingga hati tergerak melaksanakan perintah. Inilah karunia yang diberikan kepada hamba-Nya yang pantas. Firman-Nya, “…tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau (pantas) menerima petunjuk” (QS. Al-Qashas: 56).

Muslim yang baik memahami bahwa apapun perkara ibadah dalam agama ini mengharuskan ilmu atau dalil yang benar sebagai landasan dan rujukannya. Maka pasti tersesat dan celaka orang berpaling dari petunjuk Al-Quran dan As-Sunnah yang dibawa para Nabi dan Rasul. Sebagaimana sebagian kaum muslimin di zaman ini “terjebak” mengerjakan suatu ibadah menurut hawa nafsunya, melestarikan tradisi kebanyakan masyarakat atau taklid. Pikirlah dengan akal sehat kalau suatu ibadah dalam beragama ini bisa dibuat sesuai selera atau logika “itu kan baik”.

Tentunya setiap orang yang paling jahil dalam agama pun bisa membuat ibadah menurut maunya. Lantas, untuk apa para Nabi dan Rasul diutus untuk berdakwah? Kemudian apalagi syariat murni yang tersisa dari agama ini sebagai petunjuk yang haq? Sekali lagi, disinilah pentingnya ilmu agama yang diwariskan para Nabi dan Rasul. Ada satu contoh kecil dan renungan perihal pentingnya ilmu yang sahih sebelum beramal. Dikisahkan bahwa dahulu ada seseorang yang mengerjakan salat selama 60 tahun. Tetapi ternyata salatnya tidak diterima walaupun ia telah lelah mengerjakannya, “Sesungguhnya ada seseorang yang salat selama 60 tahun, namun tidak diterima salatnya walau satu salat pun. Boleh jadi dia menyempurnakan rukunya, tetapi tidak dengan sujudnya, demikian sebaliknya” (Hadis Hasan, riwayat Ibn Abi Syaibah dari Abu Hurairah).

Orang yang merasa cukup dengan ilmunya adalah indikasi atau pertanda kebodohan sekaligus kesombongan. Padahal bibit kesombongan dan praktiknya adalah warisan iblis. Begitu pula dengan sifat ujub atas ibadah yang telah dikerjakan. Menunjukkan kebodohan seseorang yang merasa cukup dengan amalnya. Sementara tidak ada jaminan pasti bahwa amalnya diterima. Jika kita sudah mengetahui perihal ini, tentunya kita sadar bahwa ternyata kebodohan atau kemalasan menuntut ilmu adalah sumber mala petaka.

Sebagimana Iblis yang dikutuk dan terusir dari surga lantara kebodohan dan kesombongannya. Maka masih mau atau sudikah kita mengikuti jejak kebodohan dan kesombongan iblis yang ingkar kepada Allah ketika diperintah untuk bersujud kepada Adam. Kebodohan jugalah petaka yang membuat iblis berlaku sombong dan merasa dirinya tinggi dengan ibadahnya selama bertahun-tahun. Kemudian ia mengedepankan logika bahwa api lebih baik sebagai asal penciptaannya. Sedangkan Adam diciptakan oleh Allah dari tanah. Mirisnya, justru inilah sifat merasa “paling tahu” inilah yang diwarisi sebagian kaum muslimin dizaman ini. Apalagi mereka yang sudah berkedudukan dan bergelar ustadz, kiyai atau gus. Walhasil mereka merasa paling benar yang menjadikan mereka sombong atau enggan menerima kritikan atau nasehat.

Jika kita benar-benar mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, hanya mengharapkan petunjuk dan taufik dari-Nya, hendaknya bersemangat menuntut ilmu agama sebagai modal utama dalam beramal. Inilah bukti seseorang yang beriman dengan jujur. Karena tidak ada orang beriman yang tanpa bersungguh-sungguh mempelajari agama-Nya. Selain itu, kita juga perlu menanamkan rasa khawatir kalau ibadah atau amal yang dikerjakan selama ini ternyata ditolak. Sehingga terus memperbaiki kualitas ibadah yang tidak sebatas kuantitas. Adapun, orang-orang yang lalai dan akan celaka merasa puas diri dengan ilmu yang dimiliknya. karenanya, ia sulit menerima dakwah kebenaran dan terus “ngotot” atau berkeras hati mempertahankan tradisi. Inilah puncak kebodohan yang hakiki, dimana setan akan bersuka ria melihat manusia yang terus lalai dari memperdalam ilmu agama. Ibnu Abbas berkata bahwa llmu agama bagi setiap insan merupakan kebutuhan wajib, yang bahkan melebihi kebutuhannya terhadap makan dan minum.

Ketahuilah bahwa orang-orang yang diinginkan kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dan membuatnya tertarik atau bersemangat dalam mempelajari agamanya. Adapun orang-orang yang tidak diinginkan Allah kebaikan, maka mereka malas dan enggan menuntut ilmu agama. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapat kebaikan, maka Allah akan memahamkkannya tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menuntut ilmu agama adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Maka hendaknya kita tidak pernah berhenti menuntut ilmu selama hayat masih dikandung badan.

Dengan ilmu agama yang benar, mudah-mudahan kualitas ibadah dan akhlak terhadap sesama akan semakin baik. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberi petunjuk, taufik dan mengaruniakan ilmu agama yang berguna di dunia dan akhirat. Tidak seperti orang-orang yang merasa cukup dengan ilmu dunia. Firman-Nya, “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Ruum: 7).

Wakadiv Office of International Affairs (OIA) Pesantren Darul Mursyid, Tapanuli Selatan


Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.

Beramal Tanpa Dasar Ilmu

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *