Rumah Anak Sigap, Dukung Upaya Menuju Generasi Indonesia Emas 2045

  • Bagikan
Rumah Anak Sigap, Dukung Upaya Menuju Generasi Indonesia Emas 2045

Tangan kecil Aretha merengkuh pundak sang ibu, Nuryati. Tak henti berlarian, tawa kecil balita 18 bulan itu menyeruak di sebuah ruang kecil cukup nyaman, yang sehari-harinya dipakai sebagai ruang pelayanan stimulasi individu Rumah Anak Sigap Gandaria Selatan, Jakarta Selatan. Sang Ayah, Arlan Saputra, ikut menemani sesi pelayanan pagi itu.

“Sejak masih bayi, kami sudah membawa Aretha, anak kami, ke Rumah Anak Sigap ini. Kebetulan lokasinya, kan, dekat dari rumah kami,” kata Arlan, memulai obrolan pagi itu, Selasa (26/11/2024) di Rumah Anak Sigap Tanoto Foundation yang letaknya di Ruang Publik Terintegrasi Ramah Anak (RPTRA) Bahari, Cilandak, Jakarta.

Arlan mengaku sangat terbantu dengan kehadiran Rumah Anak Sigap. Sebab beberapa bulan setelah lahir, Aretha mengidap sakit yang membuatnya mengalami stunting atau gagal tumbuh kembang. Setelah berobat dan dinyatakan sembuh, Arlan dan Nuryati rajin mendatangi Rumah Anak Sigap.

“Selain berkonsultasi tentang perkembangan tumbuh kembang anak dengan para fasilitator, di sini juga jadi tempat bermain Aretha yang paling aman,” ujar bapak muda ini, sambil tersenyum sumringah.

Arlan mengaku cemas dengan perkembangan buah hatinya. Setelah lolos dari ‘lubang’ stunting, masalah lain adalah lingkungan. Seperti kebanyakan lingkungan perkotaan yang padat, pola pergaulan anak dan remaja membuat Arlan waspada.

“Saya membawa anak saya keluar rumah hanya saat ke Rumah Sigap Anak. Selebihnya ya hanya di dalam rumah bersama ibunya,”kata Arlan.

Koordinator Rumah Anak Sigap Gandaria Selatan, Dea Tasya Sari mengatakan, saat ini ada puluhan keluarga yang aktif menjadi penerima layanan Rumah Anak Sigap Gandaria Selatan. Tingkat kedatangannya terus membaik sejak dibuka pada 2020 lalu.

“Awalnya buka pas Covid-19 melanda. Kami jemput bola waktu itu. Kami datangi rumah-rumah sekitar untuk memberikan mainan kepada anak-anak dan layanan konseling gratis. Sesekali juga ada pemberian makanan bergizi bagi balita yang aktif juga di Posyandu,” kata Dea.

Di Rumah Anak Sigap binaanya, Dea menjelaskan kalau prioritasnya adalah anak usia 0-3 tahun. Itu sebabnya, yang datang tidak hanya anak dan orang tuanya, bahkan ada yang diasuh neneknya.

“Nah, kadang pola asuh nenek dan orang tuanya ini berbeda. Makanya kami advokasi terus supaya ada kesamaan pola asuh diantara orang-orang terdekat si anak,” Dea.

Hal yang sama diungkap fasilitator layanan stimulasi individu, Aisyah Nur Rahmah. Sarjana PAUD ini menemukan banyak orang tua yang masih belum paham pola asuh yang baik. Misalnya, orang tua jarang mengajak anak-anaknya untuk berbicara atau ngobrol. Mereka berpikir anak cukup diberi mainan mahal atau nonton video di gadget.

“Padahal, anak usia di bawah tiga tahun ini masa-masa emas untuk pertumbuhan kosa kata. Kemampuan verbalnya akan terhambat kalau orang tua menganggap sepele kegiatan mengobrol dengan anak,” ujar Aisyah yang akrab disapa Icha.

Hal lainnya adalah kemampuan motorik halus dan kasar pada anak, yang ternyata tidak distimulasi dengan baik oleh orang tua.

Icha mengaku banyak orang tua yang akhirnya bersungguh-sungguh menjalankan terapi stimulasi individu di Rumah Anak Sigap, dan mendapati perkembangan buah hatinya jauh lebih baik setelah 2 atau tiga bulan berjalan. Pelayanan dilakukan antara satu atau dua kali dalam seminggu.

Syamsul Rizal Syabanudin
Koordinator Program SIGAP Provinsi DKI Jakarta mengatakan ada beberapa layanan Rumah Anak Sigap yang berlaku sama di berbagai wilayah.

Pertama adalah kegiatan tematik. Kegiatan sebulan sekali ini dilakukan
menggunakan Modul Pengasuhan Tematik merujuk pada Kerangka Perawatan Anak Usia Dini (Nurturing Care Framework) yang dikembangkan oleh Tanoto Foundation. Secara umum substansi materinya mengenai pengasuhan responsif, keamanan dan keselamatan, kesehatan, gizi dan kesempatan untuk belajar sejak dini

Topik atau tema layanannya berdasarkan kelompok usia mulai dari kelas ibu hamil, sampai anak usia 0-6 bulan, 6-12 bulan, 12-24 bulan dan 24-36 bulan. Sesi ini
difasilitasi oleh kader-kader atau fasilitator Rumah Anak Sigap yang telah dilatih.

Selanjutnya adalah Kegiatan Bermain Bersama (KBB). Frekuensinya 2 kali dalam sebulan. Kegiatan ini menggunakan Modul Kegiatan Bermain Bersama (KBB) Tanoto Foundation yang berorientasi pada 4 aspek perkembangan (Kognitif, Motorik, Sosial Esosional dan Bahasa). Temanya dikelompokkan sesuai usia dan difasilutasi oleh kader-kader/fasilitator.

Ada juga Stimulasi Individu (SI) sebanyak 2 kali dalam seminggu. Kegiatan dlakukan menggunakan modul “nurturing the future” yang dikembangkan oleh TF China (HOPE Center) dan diadaptasi oleh TF Indonenesia. secara umum berdasarkan pada 4 aspek perkembangan kognitif anak. Sesi stimulasi individu difasilitasi oleh fasilitator dengan latar belakang Sarjana PAUD yang telah dilatih.

“Terakhir adalah Kuliah Umum (KU) setiap tiga bulan sekali. Isu yang dibahas berdasarkan kebutuhan orang tua. Kegiatan ini difasilitasi oleh tenaga ahli seperti Dokter, Ahli Gizi, Spesialis Perkembangan Anak, Psokolog danTenaga Medis,”jelas Syamsul.

Syamsul menambahkan kalau Rumah Anak Sigap berintegrasi dengan layanan Posyandu di masing-masing tempat. Bahkan itu menjadi syarat keanggotaan.

“Tujuannya supaya semakin banyak orang tua yang rajin datang ke posyandu. Kalau ada hal yang perlu ditanya tentang pola asuh anak, maka mereka disarankan kader posyandu untuk datang ke Rumah Anak Sigap,” kata Syamsul.

Selain layanan stimulasi individu, Rumah Anak Sigap RPTRA Bahari, hari itu juga sedang mengadakan kegiatan kuliah umum. Puluhan ibu dengan membawa masing-masing buah hatinya, terlihat asik menerima materi tentang pentingnya membawa anak ke Posyandu. Hadir dalam kesempatan itu Sekretaris Kelurahan Gandaria Selatan M Ridwan, Penyukuh KB Sahira Damayanti, Bidan Vani dari Puskesmas Pembantu Gandaria Selatan serta Ketua TP PKK Gandaria Selatan, Hesti Novita Sari.

Mirna Yustina, seorang ibu dengan anak usia 2 tahun, mengaku rajin membawa anaknya ke Rumah Anak Sigap. Dia mengaku banyak sekali manfaat yang didapat selama aktif sebagai penerima layanan Rumah Anak Sigap. Selama dua tahun lebih dia rajin datang, anaknya tumbuh dengan sehat, ceria dan cerdas.

“Cuma syaratnya, kita harus rajin ke Posyandu. Karena Rumah Anak Sigap ini memang ketentuannya begitu, katanya,” ujar Mirna, semangat.

Ditemui terpisah, Kepala Bidang PAUD, Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PAUD PMPK) Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Wawan Sofwanudin mengatakan sangat mendukung upaya yang dilakukan Tanoto Foundation lewat keberadaan Rumah Anak Sigap di Jakarta. Dia bahkan berharap Rumah Anak Sigap lebih berkembang lagi, khususnya dari sisi jumlah.

“Selama ini kan sudah ada 4 Rumah Anak Sigap ya di Jakarta. Semoga bisa bertambah,” kata Wawan.

Disadari Wawan, ada keterbatasan pemerintah dalam mengelola PAUD. Apalagi di tengah padatnya penduduk Jakarta, yang notabene kekurangan lahan untuk keberadaan lembaga PAUD yang holistik, maka Tanoto Foundation dengan Rumah Anak Sigap adalah mitra yang sangat strategis dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) menuju Indonesia Emas di 2045.

“Semoga apa yang dilakukan Tanoto Foundation dapat diikuti lebih banyak lagi pihak lain. Karena membangun SDM berkualitas adalah tanggung jawab bersama,”kata Wawan.

Rumah Anak Sigap sendiri adalah implementasi dari program SIgap, yang merupakan inisiatif Tanoto Foundation di bidang pengembangan anak usia dini. Tujuannya mempersiapkan generasi masa depan yang berkualitas. Program-program Sigap dilaksanakan sebagai upaya untuk memastikan agar setiap anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapan usianya serta siap menempuh pendidikan dasar.

Ada tiga pilar utama yang ada dalam Sigap. Ketiganya adalah pencegahan stunting, pengasuhan anak usia dini (0-3 tahun) dan pendidikan anak usia dini (3-6 tahun). Terkait stunting, Rumah Anak Sigap memasukkannya dalam berbagai layanan, termasuk di layanan tematik, individual dan kuliah umum.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, mengatakan, kualitas SDM menyambut 100 tahun Indonesia pada 2045 atau disebut generasi Indonesia Emas, menjadi salah satu prioritas. Salah satu tantangan dalam mewujudkannya adalah masih adanya anak dengan kondisi stunting.

Stunting merupakan sebuah kondisi gagal tumbuh pada anak disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dalam 1.000 hari pertama kehidupan.Tidak hanya berdampak pada berat, tinggi badan anak, serta risiko lebih rentan penyakit, stunting juga berefek buruk pada perkembangan kognitif. Kondisi ini yang akhirnya memengaruhi kemampuan belajar, berpikir, hingga kecerdasan anak.

Prevalensi stunting di Indonesia sebenarnya menunjukkan tren penurunan. Tercatat pada tahun 2018 kasus stunting berada di angka 30,8 persen turun menjadi 24,4 persen pada tahun 2021, 21,6 persen pada tahun 2022, dan pada tahun 2023 menjadi 21,5 persen.

“Kita akan terus berupaya meminimalisir stunting di Indonesia. Caranya berkolaborasi dengan berbagai mitra, selain juga menetapkan program pengentasannya dalam rencana pembangunan pemerintah,” tandas Wihaji.


Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.

Rumah Anak Sigap, Dukung Upaya Menuju Generasi Indonesia Emas 2045

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *