“Tak sah kita berhaji bila tak ke Mekah dan tak elok kita berislam jika tidak menginjak kaki di Kota Syumuthrah Pasai.”
UNGKAPAN itu keluar dari mulut Muhammad Nasrul bin Muhammad Zainol dengan mata yang berkaca-kaca, karena membayangkan kuat dan hebatnya perjuangan Sultan Al-Maliku-zh-Zahir (Malikussaleh) dalam mensyiarkan Islam di seluruh Asia Tenggara. Pria berusia 50 tahun dari Pulau Langkawi, Selat Malaka, di Negara Bagian Kedah, Malaysia ini, harus menabung empat tahun lamanya untuk sampai di Kota Syumuthrah Pasai/Sumatra Pasai.
Ungkapan itu diucapkan Muhammad Nasrul di hadapan Kurator Museum Samudera Pasai, Sukarna Putra pada tahun 2022. “Muhammad Nasrul bukan orang kaya. Untuk datang kemari, dia harus menabung 4 tahun. Dia mengaku tidak indah rasanya berislam, jika belum sampai di Kota Syumuthrah dan berziarah ke Makam Sultan Malikussaleh. Muhammad Nasrul mendengar kehebatan kota ini dari kakek buyutnya, bahwa islam bersemi dari Kota Syumuthrah hingga ke Asia Tenggara,” sebut Sukarna Putra ketika diwawancarai Waspada usai kegiatan Seminar Hasil Kajian Laporan Ibnu Bathutthah di Hotel Lido Graha Aceh Utara di Kota Lhokseumawe, Selasa (22/10) siang.
Kata Muhammad Nasrul, sungguh jika bukan karena jasa para sultan dari Kerajaan Syumuthrah Pasai tersebut, mereka hingga saat ini mungkin belum mengenal Islam, seperti yang dikenalnya saat ini. Karena itulah, muncul ungkapan dahsyat seperti yang telah ditulis Waspada pada kalimat pembuka di atas.
Dia datang ke kota ini sendirian dengan membawa enam pasang baju khas Melayu. Ke enam pasang baju tersebut memiliki warna yang berbeda-beda dan dipakai sesuai dengan gelar pemilik makam. “Saat berziarah ke Makam Sultan Malikussaleh, Muhammad Nasrul memakai baju berwarna hijau,” kata Sukarna Putra memberitahukan Waspada.
Bukan hanya Muhammad Nasrul bin Muhammad Zainol yang merindukan Kota Syumuthrah. Kerinduan itu juga dirasakan oleh salah seorang penziarah lainnya dari Sulawesi. Dia datang ke kota itu bersama kerabatnya. Dan kalimat pertama yang diucapkan kepada Sukarna Putra adalah. “Tolong bawa kami untuk melihat batu nisan yang letaknya paling jauh dari pesisir,” pinta pria itu kepada sang kurator museum tersebut.
Atas permintaan itu, Sukarna Putra mengajak para penziarah menuju Gampong (desa) Bomban di Kecamatan Nibong. “Sampai di sana mereka terkesima melihat banyaknya batu-batu nisam. Mereka mengaku rindu dengan Kota Syumuthrah, karena mereka mengetahui bahwa para sultan dari kerajaan inilah yang mengislamkan kakek buyut mereka. Hingga mereka bisa berislam hingga saat ini,” kata Sukarna Putra kepada Waspada.
Ditanya berapa banyak penziarah luar Aceh datang ke Makam Malikussaleh, sejak dia bergabung di Museum Syumuthrah Pasai. Sukarna mengatakan, telah lebih dari 1000-an orang. Dan kata dia, pada Desember 2024, sudah ada yang menghubungi dirinya, akan datang 40 penziarah dari semenanjung Malaysia. “Saya dipercayakan menjadi kurator museum sejak tahun 2019,” katanya.

Lalu Di Manakah Kota Syumuthrah Itu
Kota Syumuthrah berada di Gampong (desa) Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Sesuai dengan pengakuan Ibnu Bathutthah, kata Sukarna Putra kepada Waspada, di Gampong Beuringen itulah, dulu, pada abad ke-13, berdiri megah sebuah Kerajaan Islam pertama di Nusantara ini.
Nama kerajaan ini adalah Syumuthrah Pasai atau Sumatra Pasai. Kota ini memiliki pelabuhan internasional dengan berbagai aktifitas perdagangan di dalamnya. Wilayah kekuasaan Kerajaan Syumuthrah seluruh Pulau Sumatera dan seluruh tanah Malaka. Dan Ibukota Sumatera berada di Gampong Beuringen di mana Kerajaan Syumuthrah berdiri megah.
Kesaksian Ibnu Bathutthah
Kata Ibnu Bathutthah, alat tukar yang digunakan di Kerajaan Syumuthrah menggunakan mata uang emas. Sultan dan seluruh rakyatnya beragama Islam dan bermashab Syafi’i. Kehidupan masyarakat di kerajaan itu berjalan aman dan nyaman. Perekonomian masyarakat di wilayah kerajaan ini makmur. Semua kapal-kapal besar wajib singgah di Pelabuhan Internasional itu.
Untuk mencapai kota besar ini, Ibnu Bathutthah yang memiliki julukan pengembara terpercaya menghabiskan waktu selama 25 hari, berangkat dari India, dengan jarak tempuh sejauh 140 ribu kilometer dengan menggunakan kapal layar.
“Sebelum sampai di Kota Syumuthrah, Ibnu Bathutthah bersama 100 penumpang lainnya telah mendatangi 44 negara lainnya. Dia berasal dari Kota Tangier, Moroko, Afrika Utara. Dia bersama rombongan bergerak ke Kota Syumuthrah dari India. Di India, Ibnu Bathutthah pernah menjabat sebagai hakim selama 6 tahun,” sebut Sukarna Putra sesuai dengan penuturan sang pengembara terpercaya dalam Rihlah Ibnu Bathutthah.
Begitu tiba di Pulau Jawah. Sebutan “kemenyan Jawah” (al-lubanu-l-Jawiy) mengacu ke pulau ini (Syumuthrah). Ibnu Bathutthah mengaku sudah melihat pulau tersebut dengan jarak setengah hari perjalanan. Pulau itu, kata Ibnu Bathutthah, hijau dan subur. Sebagian besar pohonnya adalah kelapa, pinang, cengkeh, gaharu India, nangka (Aceh: panah beureuka) dan nangka bilulang (Aceh: panah bubo), mangga, jamblang (Aceh: jambe kleing/jambu Jawah), jeruk manis (pamelo), dan batang kamper.
Ketika rombongan pengembara ini sampai di dermaga, orang-orang datang dengan perahu-perahu kecil membawa kelapa, pisang, mangga dan ikan. Sudah merupakan adat kebiasaan penduduk pulau ini memberikan hadiah kepada para pedagang, dan setiap orang dalam kapal memberikan mereka imbalan sesuai kemampuan.
Selanjutnya, lanjut Ibnu Bathutthah, wakil penguasa laut naik ke kapal, memeriksa para pedagang yang sampai bersamanya, lalu wakil penguasa laut memberi izin untuk turun ke pantai. Kemudian Ibnu Bathutthah bersama rombongan turun ke bandar (pelabuhan), yang merupakan sebuah kampung besar di tepi laut. Ada sebuah rumah yang disebut dengan As-Sarha di sana. Antara kampung ini dengan kota berjarak empat mil.
Selanjutnya, Bahruz, wakil penguasa laut, menulis laporan kepada Sultan memberitahukan kedatangan rombongan pengembara tersebut. Sultan lalu menitahkan Amir Daulasah bersama Qadhi Asy-Syarif Amir Sayyid, Taju-d-Din Al-Ishfahaniy dan beberapa orang faqih lainnya untuk menyambut rombongan. Mereka datang dengan membawa seekor kuda tunggangan Sultan bersama kuda-kuda lain. Ibnu Bathutthah dan teman-teman lalu berkuda, dan mereka memasuki ibukota Sultan, yaitu kota Syumuthrah, sebuah kota besar yang indah, dengan tembok dan menara kayu.
Sosok Sultan Jawah
Sultan Jawah (Syumuthrah) Al-Maliku-zh-Zahir, adalah salah seorang raja paling terhormat dan dermawan. Dia bermazhab Syafi’i dan menyukai para faqih. Mereka menghadiri majelis Sultan untuk membaca dan mengulang kaji. Dia seorang yang sangat sering pergi berjihad dan melakukan penaklukan.
Dia seorang yang rendah hati. Dia pergi shalat Jumat dengan berjalan kaki. Rakyat negerinya adalah pengikut mazhab Syafi’i, mencintai jihad dan ikut bersamanya dengan sukarela. Mereka menang di atas orang-orang kafir yang tinggal di kawasan dekat mereka, dan orang-orang kafir membayar jizyah sebagai imbalan atas perdamaian. (Bersambung). WASPADA.id/Maimun Asnawi, S.HI,M.Kom.I
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.