“Alam adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga kelestariannya secara berkelanjutan. Sikap eksploitatif manusia terhadap potensi alam, akan membawa dampak ekologis bagi ekosistem lingkungan di masa depan”.
KERUSAKAN ekosistem alam, khususnya hutan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia serakah berpotensi mengundang malapetaka bagi lingkungan, seperti terjadinya global warming, banjir, bahkan bencana kekeringan.
Di kawasan hutan hujan tropis dataran rendah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kab. Langkat, menjadi salah satu contoh nyata telah terjadi kerusakan hutan akibat aksi illegal logging dan perambahan yang terus berlangsung.
Kini, ribuan hektar kawasan hutan hujan tropis dataran rendah terluas di dunia setelah Brazil dan Zaire ini sudah terdegradasi. Kawasan hutan yang harusnya menjaga keseimbangan alam dialih fungsikan menjadi area kebun.
Sapto Aji Perabowa, semasa menjabat Kabid BPTN Wilayah III BBTNGL pernah mengatakan kepada Waspada, kawasan TNGL adalah hulu dari 11 DAS di wilayah Sumut dan Aceh yang menyangkut hajat hidup jutaan manusia.
Menurutnya, peristiwa banjir bandang yang pernah terjadi di wilayah Besitang tahun 2006 dan banjir bandang di Kec. Bahorok beberapa waktu lalu merupakan dampak nyata akibat dari kerusakan DAS (daerah aliran sungai).
Peristiwa banjir bandang yang terjadi masa itu, tidak hanya menimbulkan dampak kerugian material yang cukup besar bagi masyarakat, tapi sejumlah nyawa manusia juga melayang akibat tersapu arus air deras dari hulu sungai.
Pasca peristiwa bencana alam banjir bandang terbesar sepanjang sejarah pada tahun 2006 lalu, kondisi aliran Sungai Besitang pada saat ini mengalami pendangkalan cukup parah akibat sedimentasi tanah yang terbawa arus air.
Kini, ketika musim penghujan, air Sungai Besitang kerab meluap ke pemukiman warga, seperti yang terjadi, Sabtu (12/19). Luapan air sungai juga dipicu banyaknya paluh di hilir sungai dibendung pengusaha yang melakukan praktik alih fungsi hutan mangrove menjadi perkebunan kelapa sawit.
Adapun wilayah Kec. Besitang yang akhir-akhir ini sangat rentan diterjang luapan air sungai, yakni Desa Sekoci, Desa Bukit Mas, termasuk sebagian wilayah Kel. Kampung Lama. Nyaris setiap tahunnya daerah ini terendam banjir.
Ulah pelaku illegal logging dan perambahan menuai sorotan luas. UNESCO pada tahun 2011 memasukan TNGL sebagai daftar warisan dunia yang berbahaya. Lembaga ini pernah mengultimatum, jika hasil penilaian ternyata pemerintah tidak konsisten menjaga kelestarian hutan, maka status World Haritage akan dicabut.
Wamen KLHK, Alue Dohong, saat peresmian Sumatran Rescue Allianc (SRA) di kawasan Orangutana Informasi Centre (OIC) Bukitmas Porma Kacer ( BPC), Kec. Besitang, beberapa waktu lalu mengatakan, untuk mengatasi aksi ilegal ini pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.
“Pemerintah sangat terbantu, sebab kita tidak bisa kerja sendiri secara ekslusif, tanpa harus ada kerjasama dengan lintas intansi, termasuk masyarakat lokal,” katanya Wamen seraya menambahkan, sebagai ciptaan Tuhan manusia bertanggungjawab menjaga alam.
Dia mengingatkan kepada stakeholder harus membangun sinergisitas dan berbagi ilmu. “Ini harus terus dilanjukan secara bersama-sama. Partisipasi publik penting dalam membangun intres, jadi proses edukasi harus dilakukan.
“Bukan hanya dengan manusia, kita harus eksis hidup berdampingan dengan damai bersama satwa. Tanpa harimau, tanpa gajah, tanpa beruang, maka ekosistem akan terganggu,” ujar Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Kerusakan kawasan TNGL ini menjadi fokus perhatian sejumlah organisasi, seperti Lembaga Advokasi Hutan Lestari (LembAHtari), Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), WALHI Aceh, LBH Banda Aceh, Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh, dan Perkumpulan Pembela Lingkungan Hidup (P2LH).
Lembaga yang selama ini konsern terhadap lingkungan hidup ini mendesak Balai Besar TNGL untuk mengambil tindak tegas terhadap pelaku perusak hutan di wilayah Tenggulun, Kab. Aceh Tamiang yang secara administratif berbatasan dengan wilayah Besitang, Langkat.
Lembaga yang peduli terhadap lingkungan ini mengkhawatirkan kerusakan TNGL akan berpotensi bertambah parah bila BBTNGL tidak segera melakukan upaya perlindungan dan pencegahan, mengingat kecenderungan peningkatan kerusakan hutan yang semakin bertambah setiap tahunnya. WASPADA.id/Asrirrais
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.