Aceh Utara Peringati Hari Jadi Ke-798, Puluhan Ribu Petani Menderita

  • Bagikan
Proyek Bendung Krueng Pase yang sedang dikerjakan oleh PT Cassanova Makmur Perkasa. Waspada/Ist
Proyek Bendung Krueng Pase yang sedang dikerjakan oleh PT Cassanova Makmur Perkasa. Waspada/Ist

“Ribuan petani di 9 kecamatan itu menjerit. Namun jeritan mereka tidak didengar dan bahkan dianggap teriakan biasa”

JALAN pertanian yang biasanya terlihat bersih, kini nyaris tidak bisa dilintasi, meskipun dengan kendaraan roda dua. Hal ini terjadi sejak empat tahun terakhir, para petani tidak melintas di jalan tersebut, akibat tidak ada aktivitas apapun di areal persawahan mereka, sejak suplai air irigasi Krueng Pase berhenti mengalir ke areal persawahan seluas 8.922 Ha di 8 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Aceh Utara, dan 1 kecamatan dalam wilayah Kota Lhokseumawe, karena terjadi kerusakan berat di bendung peninggalan Belanda itu.

8.922 Ha areal persawahan berada di Kecamatan Tanah Pasir, Samudera, Meurah Mulia, Nibong, Tanah Luas, Syamtalira Aron, Syamtalira Bayu dan Kecamatan Matangkuli, serta Kecamatan Blang Mangat di Kota Lhokseumawe.

Ribuan petani di 9 kecamatan itu menjerit. Namun jeritan mereka tidak didengar dan bahkan dianggap teriakan biasa. Padahal, ribuan petani di 9 kecamatan itu telah kehilangan mata pencaharian utama mereka. Dari sawah mereka menghidupi dapur. Dari sawah mereka menyekolah anak-anaknya dan semua kebutuhan mereka bersumber dari lahan persawahan.

Aceh Utara Peringati Hari Jadi Ke-798, Puluhan Ribu Petani Menderita

Karena dengan berteriak tidak mendapat respon, maka sekelompok petani benerapa waktu yang lalu sempat berdemontrasi di depan Kantor Bupati Aceh Utara dan di depan Gedung DPRK Aceh Utara di Landing, Kecamatan Lhoksukon.

Namun apalacur, kehadiran para petani di pusat pemerintahan itu tidak mampu merubah pemikiran para wakil rakyat dan Kepala Pemerintah Aceh Utara.

Para wakil rakyat yang dipilih malah memberikan angin surga. Para pendemo pulang dengan harapan-harapan semu.

“Kami tidak merasa bahagia, Penjabat Bupati Aceh Utara merayakan hari jadi Aceh Utara ke-798 tahun. Sudah empat tahun kami menderita, tapi para anggota dewan dan bupati diam saja. Alasannya, proyek rehab Bendung Krueng Pase menjadi tanggungjawab Pusat. Padahal, objek proyek berada di Aceh Utara. Seharusnya dewan dan bupati bisa memaksa,” kata Haballah, 65, salah seorang warga petani.

Baca juga:

Awal tahun 2024, kata Hasballah, petani merasa optimis, bahwa bendung itu selesai dikerjakan pada akhir tahun ini. Dan pada awal tahun 2025, petani di 9 kecamatan kembali bisa bercocok tanam.

“Kenyataannya dan sepertinya, akan kembali gagal. Progres pekerjaan masih minim di lapangan. Kami merasa pesimis, bendung itu fungsional awal tahun depan,” kata Hasballah dengan nada sedikit ditinggikan.

Ketua Gerakan Pemuda Berusaha Petani (Gepeubut) Provinsi Aceh, Zulfikar Mulieng beberapa waktu lalu kepada Waspada menyebutkan, Bendung Kreung Pase yang berada di perbatasan Gampong (Desa) Leubok Tuwe Kecamatan Meurah Mulia dengan Gampong Maddi Kecamatan Nibong tidak akan selesai dikerjakan oleh PT Cassanova Makmur Perkasa akhir tahun ini.

Aceh Utara Peringati Hari Jadi Ke-798, Puluhan Ribu Petani Menderita
Ketua Gepeubut Aceh, Zulfikar Mulieng. Waspada/Ist

“Kami telah menunggu terlalu lama. Sudah 4 tahun kami memohon kepada pihak terkait untuk segera menyelesaikan pembangunan irigasi ini. Jika terus dibiarkan, kita tidak tahu bagaimana petani bisa bertahan. Dalam 4 tahun, petani merugi triliunan rupiah,” ungkap Zulfikar Mulieng.

Keterlambatan proyek ini, kata Zulfikar, tidak hanya berdampak pada produksi pangan, tetapi juga mempengaruhi ekonomi masyarakat setempat yang bergantung pada hasil pertanian.

Dampak lanjutan dari keterlambatan ini juga dapat mempengaruhi stabilitas harga pangan dan ketersediaan pangan di daerah tersebut dan hal ini sudah sangat terasa sekarang bagi petani dan masyarakat di 9 Kecamatan tersebut.

“Dirgahayu. Selamat memperingati hari jadi Aceh Utara ke-798 tahun. Semoga Aceh tidak semakin terpuruk,” ucapnya.

Dr Bukhari Minta Menteri PUPR Evaluasi Dirjen SDA

Kepada Waspada, Bukhari mengatakan, proyek rehabilitasi Bendungan Krueng Pasee yang digadang-gadang akan memulihkan sistem irigasi untuk ribuan hektar lahan pertanian di Aceh Utara hingga saat ini tidak menunjukkan progres signifikan.

Padahal, kata dia, kontrak proyek yang dikerjakan oleh PT. Casanova Makmur Perkasa sudah ditandatangani sejak 26 Februari 2024 lalu. Kini, lebih dari enam bulan berlalu, namun pembangunan bendungan tersebut masih tersendat, mengakibatkan kerugian bagi para petani terus berlanjut.

Advokat sekaligus Mediator PMN, Dr. Bukhari, M.H., CM, menyampaikan kritik keras terhadap kinerja Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Menurut Bukhari, lambatnya pelaksanaan proyek ini bukan hanya mengancam ketahanan pangan lokal, tapi juga mencerminkan lemahnya pengawasan dan manajemen di tubuh pemerintah.

“Kami meminta Menteri PUPR, Bapak Basuki Hadimuljono, untuk segera mengevaluasi kinerja Dirjen SDA. Sudah jelas proyek ini sangat krusial bagi petani Aceh Utara, namun apa yang kita lihat? Hampir tidak ada kemajuan. Ini mencerminkan bahwa Dirjen SDA tidak mampu mengendalikan dan mengawasi jajaran di bawahnya,” tegas Dr Bukhari.

Aceh Utara Peringati Hari Jadi Ke-798, Puluhan Ribu Petani Menderita
Akademisi IAIN Lhokseumawe yang juga advokad sekaligus Mediator PMN, Dr. Bukhari, M.H.,CM. Waspada/Ist

4 tahun petani tidak bisa turun bercocok tanam ke areal persawahan, sebut Bukhari adalah waktu yang panjang. Jika ada diantara petani nekat bercocok tanam dengan mengandalkan tadah hujan hasil panen buruk. Petani telah menanti janji manis pemerintah untuk menyelesaikan proyek ini tepat waktu seolah menguap begitu saja.

“Ini adalah bentuk kegagalan total. Tidak hanya pada tingkat pelaksana proyek, tapi juga pada level kebijakan. Kementerian PUPR harus bertindak cepat agar kerugian ini tidak semakin membesar,” tambah Dr. Bukhari.

Bendungan Krueng Pasee memiliki peran vital dalam menunjang aktivitas pertanian di Aceh Utara. Sejak proyek rehabilitasi ini dimulai, diharapkan mampu mengoptimalkan irigasi yang selama ini terganggu. Namun, keterlambatan proyek ini justru semakin memperparah kondisi yang ada.

Selain meminta evaluasi Dirjen SDA, Dr. Bukhari juga mendesak adanya pengawasan lebih ketat dan sanksi pada pihak yang terlibat dalam pekerjaan tersebut karena seharusnya sudah bisa memperlihatkan hasil yang nyata. Jika terus dibiarkan tanpa pengawasan ketat, ini hanya akan menjadi proyek mangkrak yang merugikan rakyat.

“Dirgahayu Kabupaten Aceh Utara yang ke-798 tahun. Semoga Kabupaten Aceh Utara bangkit,” pungkas Dr Bukhari, MH, CM, Senin (9/9) siang. WASPADA.id/Maimun Asnawi, SHI, MKomI


Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.

Aceh Utara Peringati Hari Jadi Ke-798, Puluhan Ribu Petani Menderita

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *