Aceh tidak pernah diam dalam pergolakan politik. Memasuki masa dekolonisasi di tahun 1950an lantaran kecewa dengan republik tang oleh orang Aceh dianggap tidak sebanding dengan kontribusi peran besar dan strategis dalam memertahankan dan menegakkan kemerdekaan
Kaphe adalah bahasa lokal Aceh yang artinya kafir. Pada masa kolonial Belanda atau jauh sebelumnya kuasa Portugis yang tidak seiman ingin menalukkan Aceh disebut kafir. Portugis menguasai Aceh yang diabad ketujuh belas menjadi emporium dunia itu lantaran posisinya strategis dalam perdagangan internasional. Portugis memerangi Aceh dan sebaliknya Aceh melawan dengan pasukan perangnya.
Perlawanan dengan kuasa asing itu membangun dan memerkaya pemertahanan diri orang Aceh dalam menghadapi ekspansi kuasa kulit putih ke wilayah kekuasannya.
Tidak saja Portugis, sewaktu perjanjian politik sesama imperial Barat, Aceh diserahkan ke Belanda pada abad ke delapan belas guna menguasai dan menaklukkan sebagai kolonisasi. Rupanya kekuasaan kolonial Belanda yang berniat merampas jalur perdagangan dan menguasai emporium Aceh tidaklah mudah. Panglima perang dan persenjataan modern diangkut ke Aceh menghabisi dan membumihanguskan agar emporium ini tunduk dan mengakui kedaulatan Belanda.
Menyalaknya meriam modern pasukan Belanda tak membuat beringsutnya pasukan Aceh berhadapan dengan kekuasaan asing, malah pasukan Aceh dapat menahan mesin perang kolonial itu dengan membuat marah kekuasan kolonial yang tak berhasil merampas teritorial Aceh.
Sebaliknya akibat tak berdaya berhadapan dengan perang gerilya Aceh memertahankan Serambi Mekkah taktik pasukan militer Belanda berubah menyerang Aceh. Pemerintah kolonial mengirim pssukan perang Van Swieten, seorang Jenderal warwatak humanis tapi bengis bersenjata meriam melipat Aceh agar segera tunduk.Persenjataan modern dikirim dari Batavia ke Aceh di tahun 1873 di bawah panglima perang Jenderal Van Swieten untuk melibas pasukan Aceh yang membuat seratusan ribu pasukan Aceh meregang nyawa.
Tak cukup sampai di sini pemerintah kolonial di Batavia (Jakarta sekarang) mengutus penasehat politik Islam Snouck Hurgronje alias Abdul Gaffar yang menukar agamanya menjadi Islam untuk memelajari dan mendalami masyarakat dan politik orang Aceh untuk penyelidikan ilmiah yang bertujuan menghancurkan dan melemahkan jiwa kejuangan dan militansi orang Aceh. Paralel dengan ini brutalitas pasukan perang kolonial dengan merekrut serdadu Ghaba Afrika dan pekerja paksa membantai masyarakat, membakar perkampungan, menyiksa san menangkapi orang Aceh.
Meskipun menyaksikan kekejian dan kekerasan politik pasukan kolonial tidak membuat semangat memberontaknta menurun, malah memompa daya lawannya memertahankan kedaulatan wilayah dan martabat sebagai orang Aceh.
Dalam menaikkan derajat harga diri dan soliditas orang Aceh serta melawan serangan para kaphe dihidupkan dan disebarkan puisi-puisi Aceh, hikayat perang stabil yang menggelorakan setiap tubuh orang Aceh menentang serdadu, pasukan dan penguasa kaphe. Semangat jihad mengusir orang yang berbalut hikayat sabil yang dipercayai perang di jalan Allah melahirkan relawan Aceh melakukan serangan bunuh diri kepada penguasa kaphe.
Seruan perang di jalan Allah tertanam dalam selebaran-selebaran yang beredar di seluruh perkampungan dengan narasi menggetarkan, milik siapakah kerajaan kita sekarang? Hanyalah milik Allah. Ini peringatan bagi semua muslim. Bersiaplah berperang dengan orang kafir (kaphe). Jangan tertipu oleh kekuatan mereka, oleh harta benda mereka, oleh peralatan mereka, oleh pasukan tentara meteka yang hebat dibandingkan dengan tentara kita. Tidak ada yang lain selain Allah yang memberikan kemenangan dan kekalahan.
Orang-orang kafir (kaphe) masih bisa dikalahkan! Jika anda memberikan sumbangan untuk perang Sabil anda akan mendapat pahala berlimpah.setiap keping emas tang diberikan kepada para pejuang akan bernilai tujuh ratus kali lipat di akhirat. Namyn mereka yang menumpuk emas di peti dan rak berzakat untuk keperluan perjuangan akan menderita siksaan yang mengenaskan setelah kematian mereka. Kemydian emas itu yang membara dibakar dalam neraka jahanam, akan diseterikakan ke lambung, dahi dan punggung , kepada mereka akan dikatakan itulah harta karun yang kamu sembunyikan. Nikmatilah sekarang (Anton Stolwijk: 2021, klm. 59-60).
Kesejahteraan
Selebaran atau pesan jihad inilah menjaga ritme daya lenting perjuanfan yang rela berkurban darah, harta dan nyawa berhadapan langsung dengan pasukan dan penguasa kaphe. Namun lantaran dihancurkan melalui kebijakan politik hasil riset Snouck Hurgronje dan keberingasan pasukan brsenjata modern Aceh dapat dikuasai penguasa kaphe.
Sesudah kekuasaan Belanda dikalahkan Jepang, yang terakhir ini menggantikan kekyasaan kolinial Belanda selama empat puluh dua bulan. Meskipun tidak sebesar menggempur pemerintah kolonial, Aceh juga memerangi kuasa Jepang karena tak sudi tanah orang Aceh dikuasai bangsa asing. Di masa Jepangvpemimpin ulama dan rakyat bersekutu padu mengusir bangsa Jepang. Konflik antar ideoli antara rakyat, kaum revolusionr di satu pihak dan kaum bangsawan dengan uleebalang yang dianggap sangat dekat dengan penguasa Belanda tak terhindarkan. Ditambah lagi kontestasi ideologi yang menajam antara Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) dan Pesindo dengan uleebalang semakin tak terkendali.
Meletup apa yang disebut revolusi sosial (Perang Cumbok) yang membawa bau anyir darah di provinsi ini. Banyak keluarga uleebalang terbunuh tahun 1946. Perang saudara atau kekerasan politik akibat pertarungan ideologi pecah di negeri Serambi Makkah.
Aceh tidak pernah diam dalam pergolakan politik. Memasuki masa dekolonisasi di tahun 1950an lantaran kecewa dengan republik tang oleh orang Aceh dianggap tidak sebanding dengan kontribusi peran besar dan strategis dalam memertahankan dan menegakkan kemerdekaan dengan apa yang diberikan republik kepada Aceh juga karena tuntutan provinsi bersyariat Islam tak terpenuhi malah disatukan dengan provinsi Sumatera Utara menyebabkan frustasi politik sehingga berakhir dengan pembangkangan politik kepada republik yang dikenal dengan Gerakan Darul Islam di bawah pimpinan Abu Daud Bereueh.
Untuk menghentikan pembangkangan politik ini republik menurunkan pasukan militer. Abu Daud Bereueh kembali ke pangkuan ibu pertiwi, tetapi luka sejarah membasahi masyarakat Aceh.
Jeda dari turbulensi politik vertikal daerah – pusat, di tahun 1970-an, persoalan ekonomi politik Aceh tidak terselesaikan. Ada gas alam di Lokseumawe tetapi tidak menurunkan kesejahteraan penduduk lokal. Industri ekstraktif yang bertumbuhan juga tidak mengerek perbaikan hidup masyarakat Aceh. Pembangunan ekonomi dituding sebagai kolonisasi Jawa sehingga menyeruakkan ketidaksenangan elite diaspora Aceh dan masyarakat apa yang sedang berlangdung.
Para elit diaspora Aceh yang tersebar di Amerika dan Eropa membangkitkan romantisme kedigdayaan sejarah Aceh untuk merumuskan identitas keacehan untuk memahami apa artinya sebagai orang Aceh.
Identitas dirumuskan, kedigdayaan sejarah ditafsir ulang, memori kolektif ditiup dan disebar ke relung hati masyarakat dan tentu saja elite diaspora Aceh menjadi promotor dan pialang terkemuka semua ini. Muncullah Gerakan Aceh Merdeka. Lagi- lagi kekerasan politik (senjata) kembali meyiram Aceh. Korban bergiliran berjatuhan di kedua belah pihak, masyarakat Aceh dan republik.
Gelombang tsunami 2004 meluluhlantakkan dan melumupuhkan ruang sosial, politik, budaya, ekonomi dan infrastruktur Aceh. Hampir dua ratus ribu jiwa digulung tsunami. Di tengah kehancyran dan ketidakberdayaan akibat tsunami ini tidak saja berdatangan lembaga bantuan internasional juga terkoneksi rancang bangun perdamaian Aceh digagasi masyarakat internasional. Perdamaian tercipta Aceh menuju jalan damai.
Sesudah melalui serangkaian perjanjian damai mulai tertata jalan baru menuju masa depan Aceh. Partai politik lokal sebagai saluran aspirasi berdiri dan berdampingan dengan ini ada partai nasional. Aceh juga memberlakukan syariat Islam (qanun) dalam mengelola masyarakat. Situasi kotemporer hanya membolehkan Bank Syariah Indonesia (BSI) beroperasi di Aceh.
Bersamaan dengan pemilihan presiden dan legislatif lokal, partai lokal turut bertarung memerebutkan posisi publik di aras lokal. Membaca sejarah Aceh dari memerlihatkan kelompok etnik ini berhasil keluar dari pergumulan dan tidak tenggelam dalam setiap pergolakan politik dan sosial yang menghampirinya dari masa ke masa.
Harapannya Aceh tidak ada lagi bersemai kekerasan politik seperti yang tertera dalam lembaran sejarahnya untuk menggapai kesejahteraan, demokrasi dan kemakmuran rakyat di masa mendatang.
Penulis adalah Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.