529 ODHA Dirawat Di Asahan

Faktor Dominan Sex Menyimpang   

529 ODHA Dirawat Di Asahan
Ilustrasi

KISARAN (Waspada): Terhitung 2014-2019 ada 529 ODHA  (orang dengan HIV/AIDS) menjalani pengobatan jalan di Kab Asahan, sedangkan faktor dominan dikarenakan sex menyimpang.
 
Kasi Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan, Kab Asahan Saprin Sanja.SKM, saat berbincang dengan Waspada, Senin (2/12), menuturkan jumlah pasien untuk 2019 (Januari-Desember berjalan) sebanyak 109 penderita, yang terbagi 78 laki-laki dan 31 perempuan, diantaranya satu seorang Balita, sedangkan yang exit (meninggal) dua orang. Jumlah itu tergolong naik dikarenakan pada 2018 lalu jumlah penderita sebanyak 78, terdiri dari 58 laki-laki, dan 20 perempuan, diantaranya dua Balita, sedangkan yang exit  empat orang.

"529 pasien itu yang berasal dari Kab Asahan, dan daerah seperti Batubara, Tanjungbalai, Labura, Labuhanbatu dan daerah lain di luar Asahan. Sedangkan untuk Balita merupakan korban, diduga dikarenakan orang tuanya terjangkit HIV dikarenakan melalui sex menyimpang atau faktor lain (transfusi darah tanpa pemeriksaan, pemakaian jarum suntik bergantian) ," jelas Saprin. 

Untuk saat ini, kata Saprin, untuk fasilitas pengobatan penyakit ini di Asahan bisa dilakukan di RSUD Kisaran, dan tiga Puskesmas (Airbatu, Aek Ledong, dan BP Mandoge), dengan pemberian obat dan perawatan medis, guna mencegah berkembangnya virus. Karena penyakit ini mengandung virus yang merusak sel darah putih (daya tahan tubuh), sehingga si penderita mudah sakit dan sulit untuk sembuh. Terutama ODHA yang lagi hamil, diharuskan menjalani perobatan, sehingga anak yang dikandungnya bisa terhindar HIV/ADS.

"Para pasien yang sudah menderita stadium IV, kebanyakan terserang TBC dan akhirnya meninggal. Sedangkan ODHA yang hamil bila menjalani pengobatan teratur, dan pola hidup sehat, peluang anaknya negatif HIV/AIDS mencapai 90 persen," jelas Saprin. 

Disinggung dengan faktor penyebar penyakit ini, Saprin mengatakan ada beberapa faktor  HIV/AIDS menyebar, seperti karena transfusi darah, sex berlainan pasangan (salah satu pengindap HIV/AIDS), jarum suntik bergantian, dan ibu penderita HIV/AIDS yang hamil menularkan kepada janinnya (tanpa pengobatan dan perawatan medis). Namun berdasarkan data dan hasil konseling para penderita faktor yang dominan adalah karena sex menyimpang (sex sejenis) yang banyak dilakukan para kaum pria. Dan berdasarkan informasi yang dikumpulkan sex menyimpang itu di Asahan banyak ditemukan tiga kelompok yaitu dilakukan oleh waria, kaum Gay, dan LSL (laki-laki suka dengan laki-laki).

"Waria sudah jelas bentuknya, laki-laki berdandan seperti perempuan, sedangkan golongan Gay, laki-laki berdandan seperti laki-laki namun gaya feminim. Namun LSL ini kalau dilihat dari kasat mata tidak terlihat, biasanya pelakunya hidup normal (menikah, dan mempunyai anak) namun untuk memuaskan nafsu birahinya dia berhubungan sex dengan laki-laki juga," jelas Saprin. 

Oleh sebab itu dalam hal ini, Dinas Kesehatan tentunya tidak bisa berjalan sendiri dalam menekan jumlah kasus ini, dan perlu bantuan instansi lain, seperti Dinas Pendidikan, tokoh agama dan masyarakat, dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk setia dengan satu pasangan dan sex sehat. 

"Sehingga penyakit ini bisa ditekan dan tidak menyebar," jelas Saprin. (a15/a31)