Success Story Rehabilitasi Hutan Mangrove Lubuk Kertang Kabupaten Langkat

Oleh: Abdul Rauf (Peneliti Masalah Lingkungan dan Guru Besar USU/Pengurus Forum Komunikasi DAS Provinsi Sumatera Utara)

Success Story Rehabilitasi Hutan Mangrove Lubuk Kertang Kabupaten Langkat
Kawasan hutan mangrove Lubuk Kertang  Langkat Sumut kerjasama BPDASHL Wampu Sei Ular terus dikembangkan menjadi kawasan wisata mangrove.

Desa Lubuk Kertang Kecamatan Pangkalan Berandan Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara merupakan kawasan pesisir Pantai Timur Sumatera yang kondisi hutan mangrovenya telah mengalami beberapa kali alih fungsi. Pada periode tahun 1983  1999 hutan mangrove di Desa Lubuk Kertang yang merupakan hilir dari DAS Lepan ini telah beralih fungsi dari ekosistem hutan bakau menjadi tambak. Dalam kurun waktu 16 tahun tersebut produktivitas hasil tambak menurun akibat hama penyakit ikan dan udang. Akibatnya mulai tahun 1999 berubah fungsi dari tambak menjadi perkebunan kelapa sawit hingga tahun 2006. Pada kurun waktu tersebut terjadi konflik antara masyarakat dengan pemegang izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH), karena laju kerusakan hutan mangrove di Desa Lubuk Kertang tersebut semakin meningkat dan dampaknya nyata pada penurunan hasil ikan tangkapan yang dialami nelayan setempat. 

Pada tahun 2011 konversi hutan mangrove terus berlanjut menjadi perkebunan kelapa sawit yang juga dilakukan oleh masyarakat setempat dan masyarakat pendatang non HPH. Pada Tahun 2012 masyarakat Desa Lubuk Kertang mulai menyadari akan pentingnya keberadaan hutan mangrove tersebut dalam mempertahankan dan meninngkatkan penghasilan mereka sebagai nelayan, dan sejak saat itu, mulai berkeinginan untuk merehabilitasinya kembali menjadi hutan bakau. Sejak tahun 2012 ini upaya rehabilitasi hutan mangrove Lubuk Kertang dimulai dengan melakukan kerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Wampu Sei Ular. Program menghijaukan kembali kawasan pesisir di Desa Lubuk Kertang ini oleh BPDASHL Wampu Sei Ular dilakukan dengan skema sebagai lokasi Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang implementasinya dimulai pada tahun 2013.

Kegiatan rehabilitasi hutan mangrove oleh BPDASHL Wampu Sei Ular dilakukan bekerjasama dengan kelompok tani mangrove yang berada di Desa Lubuk Kertang pada lahan seluas 331 hektar. Jenis pohon mangrove yang ditanam berupa pohon mangrove setempat yaitu Rizhopora spesies, Ceriop, Bruguera, Avicennia, Nipah, Cingam dan lain lain, dengan jarak tanam umumnya 3 x 1 meter. Pada tahun-tahun awal pelaksanaan kegiatan rehabilitasi, pendapatan masyarakat masih bersumber dari kelapa sawit. Setelah dilaksanakan kegiatan rehabilitasi, ditandai dengan masyarakat anggota kelompok nelayan mulai menanam, menjaga dan memelihara tanaman mangrove, walaupun dari segi ekonomi keberadaan mangrove tersebut belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan anggota kelompok.

Pada tahun 2014 dilaksanakan kegiatan pemeliharaan tahun pertama (P1) oleh BPDASHL Wampu Sei Ular bersama kelompok tani nelayan setempat. Pada saat ini, keberadaan tanaman rehabilitasi hutan mangrove mulai berkembang baik. Fungsi Sosial, Ekonomi dan Ekologi mulai ada pencerahan ditandai dengan vegetasi mangrove mulai tumbuh, biota laut (udang, kepiting, ikan) mulai berdatangan ke lokasi rehabilitasi hutan mangrove.  Keuntungan ekonomis pun mulai dirasakan oleh masyarakat sekitar dengan penghasilan berkisar anatara Rp 50.000,- sampai dengan Rp. 100.000,-  per orang per hari, hanya dengan jalan memasang bubu, jaring, dan atau jala.

Pada Tahun 2015 kembali dilaksanakan pemeliharaan, yaitu pada tahun kedua (P2) juga oleh BPDASHL Wampu Sei Ular bersama kelompok tani nelayan setempat.. Pada waktu ini keberadaan tanaman rehabilitasi hutan mangrove sudah berkembang sangat baik. Pendapatan masyarakat pun sudah bertambah berkisar antara Rp 80.000,- sampai dengan Rp 200.000,- per orang per hari dari hanya memasang bubu, jaring, dan atau jala.

Saat ini, kawasan hutan mangrove Lubuk Kertang terus dikembangkan menjadi kawasan wisata mangrove dengan mulai dibuat jalur-jalur tracking (jalan setapak) menggunakan lantai kayu (papan) di sela-sela pohon mangrove mengitari hutan mangrove dan menuju ke perairan pantai.