Perang Uhud

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki; dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang (QS. Ali Imran: 128-129)

Perang Uhud
llustrasi

Bila ayat ini dipahami terjadi menjelang perang Uhud maka ayat ini berkaitan dengan firman-Nya, wa idz ghadauta min aHlika tubawwi-ul mu’miniina maqaa-‘ida lil qitaal (Dan ingatlah ketika kamu berangkat pada pagi hari dari rumah keluargamu akan menempatkan orang-orang yang beriman pada beberapa posisi untuk berperang) (QS. Ali ‘Imran: 121), dan hal itu terjadi pada peristiwa perang Uhud. Ini merupakan tafsiran dari mufassir seperti Mujahid, ‘Ikrimah, adh-Dhahhak, az-Zuhri, Musabin ‘Uqbah, dan ulama lainnya.

Namun mereka berpendapat bahwa bala bantuan itu tidak mencapai lima ribu Malaikat, karena pada peristiwa itu kaum Muslimin melarikan diri. Sedangkan ‘Ikrimah menambahkan, tidak juga tiga ribu Malaikat.

Hal itu sesuai dengan firman-Nya, (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa.” Tetapi, mereka tidak bersabar dan bahkan melarikan diri sehingga mereka tidak dibantu dengan satu Malaikat pun. Dan firman-Nya: balaa in tashbiruu wa tattaquu (Ya [cukup]. Jika kamu bersabar dan bertakwa). Yakni bersabar dalam menghadapi musuh-musuh kalian, bertakwa kepada-Ku dan mentaati perintah-Ku.

Mereka datang menyerang pasukan kaum Mukminin dengan seketika itu juga, tepat dari arah depan mereka,  Allah akan menolong dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.

Ibnu Mardawaih meriwayatkan Bari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, mengenai firman-Nya: “Musawwimin”, Rasulullah bersabda: “Yaitu, mereka mengenakan tanda. Dan tanda para Malaikat pada peristiwa perang Badar itu adalah sorban berwarna hitam, sedang pada peristiwa perang Hunain adalah sorban berwarna merah.” Dan Ibnu ‘Abbas berkata: “Para Malaikat itu tidak ikut berperang kecuali pada peristiwa perang Badar.”

Allah SWT tidak menurunkan para Malaikat dan memberitahukan penurunannya kepada kalian melainkan sebagai kabar gembira bagi kalian, sekaligus sebagai penenang dan penenteram hati kalian. Sebab sesungguhnya pertolongan itu hanyalah dari Allah, jika berkehendak, niscaya Allah akan mengalahkan musuh-musuh-Nya tanpa melalui diri kalian dan tanpa melalui peperangan kalian melawan mereka. Sebagaimana setelah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berperang, Allah berfirman yang artinya:

Karena itu, di sini Allah berfirman: wa maa ja’alaHullaaHu illaa busyraa lakum wa litath-ma-inna quluubukum biHii wa man nashru illaa min ‘indillaaHil ‘aziizil hakiim (Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi [kemenangan]mu, dan agar hatimu tenteram karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana). Yakni, Allah memiliki keperkasaan yang tiada bandingnya, serta hikmah (kebijakan) dalam ketetapan dan hukum-hukum-Nya.

Selanjutnya Allah berfirman: liyaqtha’a tharafam minal ladziina kafaruu (Allah menolongmu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu] untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir). Maksudnya, Allah memerintahkan kalian berjihad dan berperang, karena hikmah yang terkandung di dalamnya dalam berbagai segi.

Oleh karena itu, Allah menyebutkan berbagai bentuk kemungkinan yang terjadi dalam (peperangan) orang-orang kafir terhadap Mujahidin, maka Allah SWT. berfirman: liyaqtha’a tharafan (Untuk membinasakan segolongan).

Yaitu, untuk membinasakan suatu umat: minal ladziina kafaruu au yakbitahum fa yanqalibuu (Orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali). Yakni pulang; khaa-ibiin (dengan tiada memperoleh apa-apa). Maksudnya, mereka gagal memperoleh apa yang mereka harapkan.

Kemudian Allah menyebutkan kalimat sisipan yang menunjukkan bahwa hukum di dunia dan di akhirat itu hanyalah milik-Nya, yang tiada sekutu bagi-Nya, seraya berfirman, laisa laka minal amri syai-un (Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu).

Yakni, semua urusan itu hanyalah kembali kepada-Ku, Mengenai firman Allah: laisa laka minal amri syai-un (Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu). Muhammad bin Ishaq berkata: “Artinya, engkau tidak mempunyai sedikit pun keputusan dalam urusan hamba-hamba-Ku, kecuali apa yang telah Aku perintahkan kepadamu terhadap mereka.”

Kemudian Allah menyebutkan kemungkinan lainnya dengan firman-Nya: au yatuuba ‘alaiHim (Atau Allah menerima taubat mereka). Yakni dari kekufuran yang telah mereka lakukan, lalu Allah memberikan hidayah kepada mereka setelah mereka berada dalam kesesatan.

Au yu’adzdzibaHum (Atau mengadzab mereka). Yaitu di Dunia dan di Akhirat atas kekufuran dan dosa-dosa mereka. Karena itu Allah berfirman, fa innaHum dhaalimuun (Karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim). Maksudnya, bahwa mereka berhak mendapatkan adzab itu.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, “Bahwasanya jika Rasulullah hendak mendoakan kejelekan seseorang atau mendo’akan kebaikan untuk seseorang, maka Beliau membaca qunut setelah ruku’, dan terkadang ia berkata ketika Beliau berdo’a, `Sami’allaahu limanhamidah, Rabbanaa walakal hamd,” Ya Allah, selamatkanlah al-Walid binal-Walid, Salamah bin Hisyam, `Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan orang-orang yang lemah dari kalangan orang-orang yang beriman.

Ya Allah, keraskan adzab-Mu atas orang-orang kafir Mudhar (kabilah masyhur, di antaranya adalah suku Qais dan suku Quraisy) dan jadikanlah tahun-tahun paceklik yang menimpa mereka seperti tahun-tahun paceklik pada masa Nabi Yusuf.

Doa itu dibaca Beliau secara jahr (keras). Dan pernah dalam satu shalat Subuh, beliau berdo’a: `Ya Allah, laknatlah si fulan dan si fulan.’ Untuk beberapa orang dari suku Arab. Sehingga Allah menurunkan firman-Nya: `Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka. Setelah itu Rasul berhenti berdoa seperti itu.

Ayat 126-129 ini mengandung pelajaran penting bagi Nabi dan orang-orang beriman untuk tidak meminta dalam doa mereka agar Allah melaknat dan mengutuk orang-orang kafir. Tugas mereka adalah menghadapi orang-orang tersebut dalam medan perterungan dan peperangan sesuai dengan kondisi yang terjadi.

Larangan ini menunjukkan bahwa sebagai manusia tidak boleh meminta Allah untuk menghancurkan hidup orang lain sekali pun orang tersebut kafir. Karena semua manusia itu urusan Allah apakah akan mengazab mereka atau membiarkan mereka dengan kezolimannya.

Lebih lanjut lagi ayat ini mengindikasikan bahwa masa depan orang itu urusan Allah, karena tidak selamanya manusia itu kafir dan zhalim, boleh jadi karena petunjuk dari Allah orang yang kafir akan mendapat petunjuk di masa datang.

Begitupun Allah mengizinkan orang-orang beriman untuk menghadapi orang-orang kafir yang memusuhi mereka dan bersikap tegas dan tanpa rasa sungkan untuk menghentikan sepakterjang mereka yang bergelimang dalam kekafiran.

Allah mengizinkan orang beriman mengazab orang kafir dengan tangan mereka sendiri tapi melarang mereka menyuruh Allah melakukannya untuk mereka. *** Prof Dr Faisar A. Arfa, MA : Guru Besar Pascasarjana UINSU & UMSU ***