Mewaspadai Islamophobia

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah suatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS. Al Baqarah: 216)

Mewaspadai Islamophobia

Dalam kisah-kisah perang Rasulullah SAW terdapat berbagai pelajaran positif bagi pelajar. Sebut saja kisah perang badar. Rasulullah SAW memimpin langsung perang badar bersama sekitar 313 pasukan kaum Muslimin melawan seribuan pasukan musuh.

Perang badar yang fenomenal itu dimenangkan pasukan kaum Muslimin. Di dalam kisah tersebut ada keyakinan dan keberanian melawan kebathilan.

Lalu salah satu pelajaran dari perang Khandaq adalah keharusan memiliki strategi jitu untuk memenangkan pertempuran. Poin penting yang diajarkan sejarah perang Rasulullah saw, yaitu akhlakul karimah. Perang dilakukan bukan atas dasar kebencian, bukan untuk menyakiti manusia.

Namun perang semata untuk membuka pintu penghalang dakwah di sebuah negeri. Dengan jihad kaum Muslimin hendak menerangi sebuah negeri dengan cahaya Islam dan melepaskan rakyat negeri tersebut dari kezaliman penguasa mereka.

Perang pun dilakukan tentara kaum Muslimin melawan tentara musuh. Tidak pernah dalam sejarah diceritakan bahwa umat Islam memerangi warga sipil. Tidak pernah umat Islam melakukan tindakan sadis.

Suatu kali tentara kaum Muslim negara Islam Madinah bersiap untuk melakukan perang Mu’tah melawan tentara Romawi. Rasulullah SAW menghantarkan pasukan tersebut hingga tiba di luar Madinah.

Lalu Rasulullah SAW berpesan kepada para pasukan agar jangan membunuh kaum wanita, anak-anak, orang buta, bayi. Juga tidak boleh menghancurkan rumah-rumah dan tidak menebang pepohonan.

Artinya, untuk membentuk sikap kesatria pembela agama dan negara, para pelajar membutuhkan materi pelajaran kisah-kisah perang Rasulullah saw. Kita harus ingat bahwa jihad adalah ruh perjuangan kemerdekaan Indonesia. 

Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, pesantren berperan penting dalam perlawanan terhadap penjajah. Salah satu pesantren yang memiliki sumbangsih besar bagi bangsa yaitu Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur.

Ketika perang mempertahankan kemerdekaan, Ponpes Tebuireng yang didirikan Syekh Hasyim Asy’ari menjadi salah satu benteng pertahanan bagi para pejuang. Ketika, tentara sekutu ingin menguasai Kota Surabaya, kiai Hasyim Asy’ari yang berjuluk hadratus syaikh ini bersama kiai lainnya mengumandangkan Resolusi Jihad melawan Belanda 22 oktober 1945.

Maka rencana Kemenag meniadakan materi perang dalam pelajaran SKI patut diwaspadai sebagai wujud islamophobia yang ditularkan barat ke negeri-negeri kaum Muslimin. Ya, Baratlah yang memiliki kepentingan untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya.

Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) berencana menghapus materi tentang perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah. Alasannya ada dua.

Pertama, pemerintah ingin menghapus pandangan orang yang selalu saja mengaitkan Islam dengan perang. Kedua, pemerintah ingin mendidik anak-anak sebagai orang-orang yang punya toleransi tinggi kepada penganut agama lain. *** Eva Arlini ***