Mengenal Masjid Yesus Putra Maryam yang Kontroversial di New York

Mengenal Masjid Yesus Putra Maryam yang Kontroversial di New York
Masjid Eesa ibn Maryam di New York, Amerika Serikat. Flickr

     Banyak orang heran dan bertanya-tanya ketika melintas di depan bangunan sebuah masjid yang terletak di Blok ke-5, Syracuse, New York, Amerika Serikat (AS). Karena, dari nama dan bentuknya bangunan itu terlihat seperti gereja. Namun, jika masuk ke dalamnya, bisa dipastikan itu adalah tempat ibadah umat Muslim.

     Papan nama besar bertuliskan Masjid Isa Ibn Maryam, Mosque of Jesus, Son of Mary terpampang dengan jelas di bangunan yang berbentuk gereja. Orang akan bingung karena kata 'masjid' yang tertera di papan tersebut, jelas menggambarkan bangunan itu merupakan tempat ibadah umat Muslim. Akan tetapi kata-kata 'Jesus, Son of Mary' atau 'Yesus, Putra Maryam’ yang tidak biasa diungkapkan umat Islam.

     Jadi ini masjid atau gereja? Masjid Isa Ibn Maryam ini merupakan tempat ibadah umat Muslim, bukan gereja. Hanya saja, masjid itu menggunakan bangunan yang dulunya adalah gereja. Bangunan itu beralih fungsi menjadi masjid sejak Juni 2014, setelah sebelumnya terbengkalai karena tidak berfungsi sebagai gereja.

     Menurut Dr Yusuf Soule, pengelola masjid, bangunan ini disewa dari North Side Learning Center, sebuah organisasi relawan nirlaba di Syracuse yang didirikan pada 2009. North Side sendiri membeli banguan gereja itu, beserta bangunan sekolah di dalamnya, setelah sebelumnya sempat digunakan pemerintah setempat untuk mendukung program pengungsi dan imigrasi.

     Soule mengakui, bukan persoalan mudah mengubah fungsi gereja itu menjadi masjid. Banyak orang, baik dari kalangan umat Kristen maupun kalangan umat Muslim, mengaku keberatan dengan peralihan fungsi itu. Namun, setelah melakukan perbincangan dengan banyak komunitas, akhirnya gereja itu disepakati perubahan fungsinya.

     Pada awalnya, Soule juga mengaku kesulitan memperoleh dukungan Muslim. Bahkan banyak di antaranya menolak bersembahyang di masjid itu. "Sejumlah orang marah pada saya. Sejumlah orang yang tidak mengenal saya juga marah. Banyak Muslim merasa bangunan itu bukan tempat ibadah Muslim. Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai menerima kehadiran masjid itu. Kini puluhan umat Muslim bersembahyang di sana setiap harinya," kata Soule, seperti dilaporkan kantor berita Associated Press.

     Mengingat bangunan itu tadinya adalah Gereja Katolik Roma dan bernama Gereja Holy Trinity, tentu banyak sekali simbol-simbol Kristen di dalam dan luar bangunan itu. Komunitas Muslim pun terpaksa berhadapan dengan Dewan Preservasi Bangunan Bersejarah Syracuse untuk memperoleh izin membuang dan menganti simbol-simbol itu.

     Setelah proses yang cukup panjang, pengurus masjid akhirnya diperkenankan mencabut simbol-simbol Kristen, seperti salib, selama tidak mengubah keaslian bentuk bangunan. Pengurus melakukan sedikit perbaikan terhadap dinding, langit, dan atap bangunan yang kosong selama empat tahun itu.

     Para pengurus tidak mengubah dekorasi interior bangunan gereja itu yang merupakan hasil kerajinan tangan. Mereka juga tidak mengganti jendela-jendelanya, hanya menambahkan ornamen-ornamen bernuansa Islam, seperti hiasan dinding kaligrafi bahasa Arab.

     Sewaktu berada di dalam masjid itu, banyak pengunjung merasa seolah berada dalam ruangan yang merupakan paduan antara gereja dan masjid. Yang membedakan Masjid Isa Ibn Maryam dengan masjid-masjid lain adalah, di masjid itu tidak ada pemisah fisik antara tempat ibadah pria dan perempuan. Mereka juga tidak memiliki imam dan muazin (orang yang mengumandangkan azan) tetap. Alasannya, masjid ini diperuntukkan bagi semua orang, sehingga siapa saja dapat menjadi muazin dan atau memimpin shalat.

     Sajad Samer merupakan seorang remaja pengungsi Afghanistan. Dia senang bisa menjalankan ibadah di sana. "Saya berusaha mengamalkan ajaran Islam. Saya sering mengumandangkan azan di sini. Orang-orang di masjid ini mendorong saya untuk menjadi muazin. Saya menjadi muazin beberap kali sepekan di sini," kata Samer.

     Direktur Eksekutif North Side Learning Center, Mark Cass, bersyukur bangunan bekas gereja itu kini menjadi tempat ibadah umat Muslim. Menurutnya, komunitas Muslim di sana memberi manfaat positif bagi masyarakat di sekitarnya.

     "Mereka menempatkan diri mereka sebagai komunitas yang mengabdi kepada seluruh masyarakat. Dapur amal mereka terbuka bagi siapa saja tanpa memandang agama, ras dan status sosial. Mereka mengadakan piknik dan berbagai kegiatan musim panas untuk kepentingan warga sekitar," kata Cass.

     Cass mengatakan, jangan percaya begitu saja dengan apa yang muncul di banyak media tentang masyarakat AS dan muslim. Menurutnya, masyarakat Amerika sangat terbuka dalam menyambut perbedaan, dan merangkul muslim sebagai bagian dari mereka. (associated press/And)