Mendekatkan Diri Dengan Alquran

Bukankah Allah hakim yang paling adil? (QS. At-Tin: 8)

Mendekatkan Diri Dengan Alquran

Membaca Alquran adalah ibadah meskipun kita belum mengetahui arti katanya. Cuma, membaca Alquran dengan lebih berupaya memahami kandungan makna dan mengamalkan perintah dan menjauhi larangannya, tentu saja lebih sempurna dibanding sekedar membaca harfiahnya.

Menurut M. Quraish Shihab agar Alquran dapat meresapi dalam diri pembaca, kita seakan berdialog dengan Alquran saat membacanya. Atau berbicara dengan Tuhan ketika membacanya. Atau anggaplah Alquran itu turun pada hati sanubari kita.

Misalnya, ketika Alquran menjelaskan dalam akhir surah At-Tin: “Alaisallahu biahkamilhakimin,” (QS.  At-Tin: 8). Bukankah Allah hakim yang paling adil ? Benar, Dialah Allah hakim yang adil.

Ketika, kita membaca arti Surah Ar-Rahman: Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ? Jadi, kita dapat menjawab ayat tersebut sesuai dengan perilaku kita.  Begitulah, satu cara yang dikemukakan Quraish Shihab agar kita lebih memahami isi kandungan Alquran dengan berdialog langsung dengan Alquran.

Mirip halnya dengan pendapat Yusuf Qardhawi tugas penting yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW terkait dengan wahyu Alquran: mengajarkan kitab dan hikmah. Mengajarkan Alquran merupakan aktivitas membaca, bukan sekedar menghafal tanpa memahami.

Kegiatan belajar dan mengajarkan Alquran itulah yang menjadi cakupan tadarusan. Tadarus Alquran berupaya mengenali susunan Alquran, memahami dan menangkap makna, dan mengungkap hukum dan nilai yang terkandung di dalamnya untuk diamalkan.

Dalam riwayat banyak sahabat dan ulama Islam dulu hanya membaca satu ayat Alquran dan berupaya membaca, mempelajari, mengulangi, memikirkan, dan merenungi sampai harus beberapa kali.

Kadang agak berbeda dengan kondisi kita kini yang hanya berlomba mengkhatam Alquran dan merasa cukup dengan bacaannya saja. Memang itu, tidaklah salah, cuma rasanya perlu peningkatan pemahaman terhadap Alquran. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan saat mendarus Alquran agar kandungan makna atau nilainya lebih meresap dalam hati, pikiran, dan perilaku kita.

Pertama, kedekatan diri kepada Tuhan, ketawadukan, dan kesucian hati. Tujuan utama membaca Alquran adalah sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ilmu yang paling bermanfaat ialah ilmu yang semakin mendekatkan kita kepada Allah.

Berikutnya, ketawadukan atau kerendahan hati. Ilmu itu semakin membuat kita tawaduk. Kerendahan hati dalam mempelajari Alquran sangat penting. Hal itu mendorong kita untuk membuka diri, seolah bacaan Alquran itu berkaitan dengan diri kita.

Misalnya, kita membaca ayat yang berkaitan dengan sifat munafik. Kita dapat bertanya-tanya atau jangan-jangan kita termasuk golongan itu ? Ketika membaca ayat yang berkaitan dengan orang beriman, kualitas kita belumlah sampai sesempurna itu. Itu juga akan lebih bermakna, jika kesucian jasmani dan rohani semakin terjaga.

Kedua, mempelajari bahasa Arab. Kita perlu mempelajari bahasa Arab yang lebih meresapi makna Alquran. Karena memang bahasa Alquran berbahasa Arab. Kini, banyak pembelajaran bahasa Arab yang tersedia melalui guru pendamping, buku, internet, dan sebagainya.

Kita dapat memulai fokus pembelajaran yang berkaitan dengan bahasa Arab dan bahasa Alquran. Termasuk di dalamnya ilmu nahwu-sharaf. Itu tidak berarti, orang di luar yang tidak belajar bahasa Arab, tidak dapat memahami Alquran.

Bukan begitu, kita semua memiliki akses untuk memahami Alquran sesuai dengan pengetahuan dan kedalaman ilmu yang kita kuasai. Tetapi, alangkah lebih baiknya, kalau kita mau mempelajari bahasa Arab sebagai landasan memahami kandungan dasarnya.

Ketiga, setelah mempelajari, mengetahui, dan memahami arti Alquran. Termasuk di dalamnya, kita mengkaji berbagai tafsir atau disiplin ilmu yang berkaitan dengan Alquran. Langkah selanjutnya, kita dapat mengamalkan isi kandungan Alquran. *** Abdul Hakim Siregar ***