Makan Riba

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan beberapa lipat lagi dilipat-lipatgandakan. Bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian beruntung. Takutlah kalian akan api neraka yang disiapkan untuk orang-orang kafir. Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya supaya kalian dirahmati” (QS. Ali Imran: 130-132)

Makan Riba

Tiga ayat ini membentuk satu kesatuan yang jelas berisi larangan dan perintah serta konsekuensi. Ayat 130 berisi larangan memakan riba bagi orang beriman. Disusul perintah bertakwa kepadaNya.

Mematuhi larangan Allah akan menyebabkan seseorang beruntung. Ayat berikutnya, Allah mengaitkan larangan-Nya tersebut dengan ancaman-Nya apabila dilanggar. Menariknya adalah, adanya penisbatan bagi orang yang abai dengan larangan memakan riba sebagai orang yang kafir. Ketaatan terhadap perintah dan larangan Allah dapat membawa seorang insan menjadi orang yang dirahmati oleh Allah.

Yang diperselisihkan dari ketiga ayat ini adalah pemahaman terhadap berlipatganda. Ad’afan merupakan bentuk jama’ dari di’f yang artinya kelipatan atau dua kali dari jumlah sebelumnya. Dengan demikian, makna tekstual rangkaian kalimat, dari kedua suku kalimat ini bisa bermakna: “dua kali kelipatan, berlipat-lipat lagi dilipatgandakan, dua kali salinan.”

Sementara bila menggunakan rangkaian dua suku kalimat, maka arti dua rangkaian suku kata ini akan berubah menjadi: “dua kali pelipatgandaan, berlipat-lipat yang dilipat-lipat-gandakan.”

Secara maknawi, perbedaan antara kedua rangkaian suku ini menunjukkan adanya perbedaan dari segi rasa bahasa (hissi). Makna ayat itu adalah jangan kalian memakannya, karena Allah telah menunjukkan kalian terhadapnya, yakni sesuatu yang kalian makan ketika kalian (memberi utang) orang lain, merupakan pekerjaan yang tidak halal bagi kalian di dalam agama” (Abu Muhammad Ibnu Jarir at-Thabari, Tafsīr at-Thabāri, Daru al-Ma’arif, tt., Juz 7, hal.204).

Imam Ibnu Jarir at-Thabari juga mendasarkan penafsirannya pada riwayat dari Muhammad bin Amru, dari Ashim, dari Isa, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid; yang dimaksud riba dalam ayat adalah riba jahiliyah. Maksud dari “riba jahiliyah” sebagaimana dijelaskan Al Thabary dengan mendasarkan penyandaran riwayat pada Yunus, dari Ibnu Wahbin, Ibnu Zaid, bahwa maksud dari ayat, adalah “Sesungguhnya riba di masa jahiliyah adalah dilaksanakan dengan basis (melipatgandakan) dan (tahun/masa), yaitu: kelebihan utang oleh seorang laki-laki yang diterima saat jatuh tempo pembayaran. Ia berkata kepada orang yang diutangi (Kamu lunasi sekarang, atau kamu berikan tambahan kepadaku?” Jika ia sanggup melunasi, maka dilunasi.

Namun bila dilakukan pengubahan tempo pelunasan dengan menambah “tahun pelunasan” berupa tahun berikutnya, maka bila utangnya berupa unta bintu makhadz, maka ia harus mengembalikan utang berupa bintulabûn di tahun ke dua.

Bila utang berupa unta hiqqah, maka dikembalikan berupa jadz’ah, kemudian dikalikan empat, demikian seterusnya, bertambah tahun, bertambah kelipatannya. Bila utang itu berupa ‘ain (barang), jika ia tidak melunasinya di tahun jatuh tempo itu, maka diambil kelipatannya di tahun mendatang.

Bila di tahun berikutnya, masih juga belum dilunasi, dilipatkannya lagi. Jika semula utangnya 100, maka berubah menjadi 200 di tahun berikutnya (2 kali lipat). Tahun berikutnya, bila belum dibayar, berubah menjadi 400. Demikianlah, berubah kelipatannya seiring pergantian tahun.

Beliau berkata: inilah maksud dari ayat jangan memakan riba dengan melipatgandakan lagi dilipatgandakan” (Abu Muhammad Ibnu Jarir at-Thabari, Tafsīr al-Thabāri, Daru al-Ma’arif, tt., Juz 7, hal.204).

Berdasarkan riwayat ini, maka dapat disimpulkan pembacaan teks ayat adalah melipatgandakan utang, dan dilipatgandakan, yakni: dua kali kelipatan besarnya pokok utang Dengan demikian, maka esensi dari ayat Q.S. Ali Imran: 130 di atas, adalah larangan memakan harta riba yang diperoleh dalam bentuk “riba jahiliyah”.

Riba dalam ayat ini dimaksudkan para mufassir seperti alThabary terkait persoalan hutang dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan persoalan jual beli.

Ini gunanya umat Islam jangan seperti orang jahiliyah yang menyamakan jual beli dengan riba. Ketika dilarang memakan riba dalam memberikan hutang mereka berkilah jual beli sama seperti riba yakni sama sama berusaha mendapatkan untung.

Karena itulah ada ayat yang menegasikan bahwa jual beli itu tidak sama dengan riba. Alasan utamanya karena Allah menghalalkan jual beli dan mengharanmkan riba, sehingga tidak mungkin hal yang diharamkan Allah disamakan dengan hal yang dihalalkan-Nya.

Jelas keliru bila ada orang menyamakan transaksi jual beli dengan riba yang dihasilkan dari hutang sebagaimana yang dipraktekkan masa jahiliyah. Penyamaan jual beli ini secara tegas dibantah Allah lewat Surat al-Baqarah ayat 275.

Lewat ayat itu, Allah juga mengancam bahwa orang yang menyerupakan antara “keuntungan jual beli” dengan “keuntungan dari riba”, kelak akan dibangkitkan dari kubur dalam keadaan seperti orang yang gila dan tempat kembali orang yang demikian itu adalah neraka, sebagai seburuk-buruk tempat kembali (QS. Al-Baqarah: 275).

Allah menghalalkan manusia melakukan jual beli. Semua bentuk jual beli yang memenuhi tuntunan yang sudah disyariatkan, boleh dipraktikkan. Tujuan jual beli adalah mendapatkan keuntungan. Semua keuntungan jual beli kontan, kredit, bertempo, adalah diperbolehkan syariat.

Khusus jual beli kredit, kemiripan untung yang didapat lewat jual beli secara kredit ini sering diwacanakan secara salah oleh sekelompok masyarakat. Banyak orang beranggapan jual beli kredit adalah sama riba.

Allah sungguh sangat memperhatikan kehidupan niaga ini sehingga memberikan ancaman bagi kelompok yang hendak mengaburkan perbedaan antara jual beli dan riba—walau sekilas antara keduanya mirip. Letak perbedaan utamanya adalah pada proses akad yang digunakan dan praktiknya.

Mungkin ini alasan Allah SWT memberikan penekanan khusus terhadap jual beli ini dalam Alquran, karena sebagian besar kebutuhan manusia itu harus dipenuhi dengan jalan melakukan transaksi jual beli dan muamalah lainnya yang sejenis termasuk di dalamnya harus diperoleh dengan jalan kredit. 

Jual beli kredit dalam istilah fiqih disebut dengan bai‘ taqsîth. Jual beli bertempo disebut bai’ bi al-tsamani al-âjil. Jual beli bertempo atau taqsîth disertai uang muka, disebut bai’ urbân. Ketiganya merupakan jual beli dengan harga tidak tunai (harga tunda).

Apakah jual beli ini sama dengan riba ? Dalam literatur fiqih kontemporer, bai’ taqsîth didefinisikan: praktik jual beli dengan harga bertempo yang dibayarkan kepada penjual dalam bentuk cicilan yang disepakati.

Sementara itu, penjual menyerahkan barang dagangan yang dijualnya kepada pembeli seketika itu juga pada waktu terjadinya aqad. Kewajiban pembeli adalah menyerahkan harga untuk barang yang dibeli dalam bentuk cicilan berjangka.

Disebut bai’ taqsîth karena memuatnya ia kepada sebuah bentuk transaksi jual beli dengan ciri harga yang disepakati:1) sama dengan harga pasar, atau 2) lebih tinggi dari harga pasar, atau sebaliknya 3) lebih rendah dari harga pasar.

Tetapi yang umum berlaku adalah pada umumnya harga dari barang bai’ taqsîth lebih tinggi dibanding harga jual pasar” (Lihat: Al-Qadli Muhammad Taqi al-Utsmâny, Ahkamu al Bai’ al-Taqsîth dalam Majalah Majma’ al-Fiqhu al-Islamy, tt, Juz 7, hal. 596) berdasarkan definisi di atas, maka apabila ada skema penjualan dalam bentuk cicilan maka ia bisa dikelompokkan ke dalam bai’ taqsîth

Imam Nawawi menyatakan dalam kitab Raudlatu al-Thalibin, jual kredit hukumnya “boleh.” “Andai ada seorang penjual berkata kepada pembeli: “Aku jual ke kamu (suatu barang), bila kontan dengan 1.000 dirham, dan bila kredit sebesar 2.000 dirham, maka aqad jual beli seperti ini adalah sah” (Abu Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Raudlatu al-Thâlibîn, Maktabah Kairo, Juz 3, hal.397).

Maka kampanye masyarakat penggiat anti riba sudah menyimpang dari tuntunan yang ada di dalam kitab kitab fiqh yang membolehkan umat Islam melakukan transaksi jual beli baik tunai maupun kredit.

Ini penting diketahui umat Islam agar mereka tidak dihantui rasa bersalah ketika membeli rumah dan kenderaan secara kredit atau cicilan karena itu termasuk ke dalam lingkup jual beli dan tidak masuk kategori riba.

Yang hanya perlu diperhatikan adalah sikap qonaah yakni tidak berlebihan dalam membeli barang sehingga membuat hidup menjadi sulit karena kehabisan dana membeli makanan dan biaya hidup sehari-hari. Berbelanjalah seperlunya dan beramallah sepenuhnya. *** Prof Dr Faisar A. Arfa, MA : Guru Besar Pascasarjana UINSU & UMSU ***