Cut Nyak Dhien, Anak Loper WASPADA Raih IPK 3.91

CUT NYAK DHIEN, putri loper Surat Kabar Harian Waspada sukses membanggakan orangtuanya yang hanya berprofesi sebagai loper koran dengan meraih cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.91 pada jenjang Diploma III Kebidanan pada Poltekes Kemenkes Aceh saat wisuda, baru-baru ini.

Cut Nyak Dhien, Anak Loper WASPADA Raih IPK 3.91
Foto (1) Cut Nyak Dhien bersama Muhammad Sufi usai wisuda di Poltekes Kemenkes Aceh untuk Jurusan D III Kebidanan beberapa waktu lalu. (2) Cut Nyak Dhien bersama ibu Azwarni dan kakeknya. Waspada/Ist
Cut Nyak Dhien, Anak Loper WASPADA Raih IPK 3.91
Cut Nyak Dhien, Anak Loper WASPADA Raih IPK 3.91

Icut sapaan akrabnya lahir, 18 Agustus 1999 lalu di Gampong Matang Setui, anak pertama dari pasangan Muhammad Sufi dan Azwarni, SPd dari tiga bersaudara.

Sementara Muhammad Sufi adalah sosok bapak yang low profile dan tak pernah mengenal lelah demi menyekolahkan anak-anaknya agar menjadi orang yang sukses. Profesi Sufi begitu disapa banyak kalangan adalah seorang loper koran Harian Waspada terbitan Medan dan petani.

"Sejak tahun 1996 saya sudah menjual koran keliling di Kota Langsa dengan sepeda," ungkap Sufi kepada wartawan, Senin (7/10).

Berbekal kerja keras dan keuletannya hingga saat ini Sufi masih setia menjual koran kepada hampir semua warga Kota Langsa. Apalagi, sosok Sufi yang luwes, sehingga banyak kalangan sangat mengenal dirinya dengan ciri khasnya dalam menjajakan suratkabar ke pelanggan.

"Meskipun saya sebagai loper koran, tapi saya bangga bisa mempunyai anak yang memiliki prestasi hingga mendapatkan hasil cumlaude di sekolahnya," ujarnya haru.

Sementara itu, Icut mengaku memiliki keinginan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi adalah wujud dorongan dari kedua orang tuanya, dengan segala keterbatasan, baik dari secara finansial maupun pengalaman pendidikan. 

Sambung Icut, yang paling membuatnya terkejut sekaligus menjadi energi yang luar biasa adalah ketika bapak mengatakan bahwa tidak ada harta lain yang bisa diberikan kecuali pendidikan.

Dorongan itulah yang menjadi motivasinya untuk terus belajar giat agar bisa membanggakan ibu dan ayahnya.

"Terimakasih ibu dan ayah, kalianlah penyemangat Icut yang selalu memberi support dalam menyelesaikan semua tugas apapun di kampus maupun tugas praktik di rumah sakit," ucap dara manis berkulit putih itu.

Kehidupan Icut terbilang biasa, tidak ada yang istimewa. Hanya sebagai gadis petani dan anak loper yang kesehariannya hanya belajar serta bergelut dengan buku-buku demi memcapai impiannya melanjutkan studinya ke jenjang Strata 1 dan Strata S2.

"Icut kepingin sekolah lagi untuk menggapai asa hingga ke jenjang Strata-2, namun melihat kondisi ayah karena terbentur biaya demi untuk menyelamatkan adik-adik yang kini sedang duduk bangku SMA," ungkap Icut lirih.

Tekad Icut untuk bisa melanjutkan sekolahnya terbentur oleh biaya  karena sang ayah sudah lempar 'handuk putih' demi menyelamatkan tiga saudaranya yang lain.

Sementara Icut yang memiliki cita-cita menjadi dosen merupakan anak yang kaya dengan prestasi, talenta itu sudah terlihat sejak mengecap pendidikan di bangku SD, SMP hingga SMK Keperawatan yang selalu mendapatkan juara satu. Bahkan Icut pernah mendapat penghargaan dari Disdikbud Kota Langsa waktu itu.

Saat ini, demi mengisi kekosongan waktunya, Icut kini mengabdikan dirinya sebagai bidan pendamping di gampong dalam proses menangani kelahiran warga yang notabenenya belum mendapatkan hasil dari jerih payahnya.

"Pokoknya Icut gak mau berdiam diri kerja keras dan tidak mau mengecewakan ayah dan ibu yang sudah bersusah payah menyekolahkan Icut. Semoga Allah Swt senantiasa memberikan kesehatan buat ayah dan ibu. Kalian adalah cahaya bagi Icut dan adik-adik," tukas Icut. (m43)